Sabtu, 09 April 2011

Pembelajaran Membaca


KETERAMPILAN MEMBACA
Kegiatan Belajar 1
A. Tujuan Kegiatan Pembelajaran
            Setelah mempelajari uraian materi berikut ini, peserta diklat dapat memahami apa sebenarnya pengertian istilah membaca, tujuan yang terkandung dalam kegiatan membaca, jenis-jenis membaca, dan proses membaca, serta dapat mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
B. Uraian Materi
. Arti, Tujuan, Aspek-aspek, Jenis-jenis, dan Proses membaca
Pengertian Membaca
            Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodgson 1960 : 43-44).
            Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. (Anderson 1972 : 209-210).

            Istilah-istilah linguistik decoding dan encoding tersebut akan lebih mudah dimengerti kalau kita dapat memahami bahasa (language) adalah sandi (code) yang direncanakan untuk membawa/mengandung makna (meaning). Kalau kita menyimak ujaran pembicara maka pada dasarnya kita men-decode (membaca sandi) makna ujaran tersebut. Apabila kita berbicara, maka pada dasarnya kita meng-encode (menyandikan) bunyi-bunyi bahasa untuk membuat/mengutarakan makna (meaning). Seperti juga halnya berbicara dalam dalam bentuk grafik, maka menulis pun merupakan suatu proses penyandian (encoding process), dan membaca sebagai suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process). Beberapa ahli lebih cenderung memakai istilah recording (penyandian kembali) untuk menggantikan istilah reading (membaca) sebab pertama sekali lambang-lambang tertulis (written symbols) diubah menjadi bunyi, dan kemudian barulah sandi itu dibaca (are decoded). Menyimak dan membaca berhubungan erat karena keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis berhubungan erat karena keduanya merupakan alat untuk mengutarakan makna, mengemukakan pendapat, mengekspresikan pesan. (Anderson 1972 : 3).
            Di samping pengertian atau batasan yang telah diutarakan di atas maka membaca pun dapat pula diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain, yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis. Bahkan ada beberapa penulis yang seolah-olah beranggapan bahwa “membaca” adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik (phonics = suatu metode pengajaran membaca, ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi/menuju membaca lisan (oral reading). Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Tingkatan hubungan antara makna yang hendak dikemukakan oleh penulis dan penafsiran atau interpretasi pembaca turut menentukan ketepatan membaca. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dia pergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut. (Anderson 1972 : 211).
Secara singkat dapat dikatakan bahwa “reading” adalah “bringing meaning to and getting meaning from printed or written material”, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis (Finochiaro and Bonomo 1973:119). Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang  visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori yang sama yang telah mereka tanggapi sebelum itu. Menyimak dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca. Ketika membaca kita membuat bunyi dalam kerongkongan kita. Kita membaca lebih cepat kalau kita tahu bagaimana cara mengatakan serta mengelompokkan bunyi-bunyi tersebut dan kalau kita tidak tertegun-tegun melakukannya. Oleh karena itu maka penting sekali diingat agar setiap kesulitan yang berkenaan dengan bunyi, urutan bunyi, intonasi, atau jeda haruslah dijelaskan sebelum para pelajar disuruh membaca dalam hati ataupun membaca lisan. (Finocchiaro and Bonomo 1973:120). Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembicaraan di atas adalah bahwa “membaca ialah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya” (Lado 1976 : 132).
     
Tujuan Membaca

            Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca. Berikut ini kita kemukakan beberapa yang penting :

a.       Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
b.      Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
c.       Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya, setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita ( reading for sequence or organization).
d.      Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
e.       Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca  untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
f.       Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading to evakuate).
g.      Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaiman hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaiman dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (readingto compare or contrast). (Anderson 1972 : 214).

Aspek – Aspek Membaca   

            Di muka telah diutarakan bahwa membaca merupakan suatu ketrampilan yang kompleks yang melibatkan serangkaian ketrampilan yang lebih kecil lainnya.
            Secara garis besarnya terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu :

1.   Ketrampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat dianggap    berada pada urutan yang lebih rendah (lower order). Aspek ini mencakup :
a.  Pengenalan bentuk huruf.
b.  Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grafem, kata, frase, pola klause,
  kalimat, dan lain-lain).
c.  Pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan
  menyuarakan bahan tertulis atau “to bark at print”).
d.  Kecepatan membaca bertaraf lambat.

2.  Ketrampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap   berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order). Aspek ini mencakup :
a.                                           Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal).
      b.   Memahami signifikansi atau makna (a.l. maksud dan tujuan pengarang  
            relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca).
      c.   Evaluasi atau penilaian (isi, bentuk).
b)            Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.
 Jenis-jenis Membaca

            Dengan bertolak dari aspek-aspek membaca yang terdiri atas ketrampilan yang bersifat mekanis dan ketrampilan yang bersifat pemahaman, Tarigan (1985:11 – 13) membagankan jenis-jenis membaca sebagai berikut :


                                                                               Membaca
                         Membaca  Nyaring                        Survei
                                                                     
                                                          Membaca      Membaca
Membaca                                          Ektensif         Sekilas
                                                                                      
                                                                                Membaca          
                         Membaca Dalam                            Dangkal
                         Hati  
                                                                                                      Membaca Teliti

                                                                                Membaca       Membaca
                                                          Membaca       Telaah Isi       Pemahaman
                                                          Intensif    
                                                                                                       Membaca Kritis








       Membaca Ide-ide

                                                                                                        Membaca
                                                                               Membaca         Bahasa
                                                                               Telaah
                                                                               Bahasa

       Membaca Sastra


A. Membaca Nyaring

Membaca nyaring disebut juga membaca bersuara karena pembaca mengeluarkan suara. Hal-hal yang dibicarakan berikut ini adalah pengertian dan hakikat membaca nyaring, aspek membaca nyaring, dan ketrampilan dalam membaca nyaring.
1.      Hakikat Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah suatu kegiatan membaca yang merupakan alat bagi pembaca bersama orang lain untuk melengkapi isi yang berupa informasi dari pengarang (Kamidjan, 1996:9). Tarigan (1985:22) berpendapat bahwa membaca nyaring adalah suatu kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang.
Pada hakikatnya, membaca nyaring adalah proses melisankan sebuah tulisan dengan memperhatikan suara, intonasi, dan tekanan secara tepat, yang diikuti oleh pemahaman makna bacaan oleh pembaca (Kamidjan, 1996:9).
2.   Aspek Membaca Nyaring
Membaca nyaring menurut Kamidjan (1996: 9-10) memiliki beberapa   aspek, yaitu :
a. Membaca dengan pikiran dan perasaan pengarang ;
b. Memerlukan keterampilan menafsirkan lambang-lambang grafis ;
c. Memerlukan kecepatan pandangan mata ;
d. Memerlukan ketrampilan membaca, terutama mengelompokkan 
    kata secara tepat ;
e. Memerlukan pemahaman makna secara tepat.
3.   Ketrampilan dalam Membaca Nyaring
Beberapa keterampilan yang diperlukan dalam membaca nyaring, antara lain :
a.       Penggunaan ucapan yang tepat ;
b.      Pemenggalan frasa yang tepat ;
c.       Penggunaan intonasi, nada, dan tekanan yang tepat ;
d.      Penguasaan tanda baca yang baik ;
e.       Penggunaan suara yang jelas ;
f.       Penggunaan ekspresi yang tepat ;
g.      Pengaturan kecepatan pembaca ;
h.      Pengaturan ketepatan pernafasan ;
i.        Pemahaman bacaan ;
j.        Pemilikan rasa percaya diri.

B.   Membaca Dalam Hati
      1.   Membaca Ekstensif
Ketika mengunjungi perpustakaan atau toko buku, anda akan menjumpai banyak buku, baik jenis maupun jumlahnya. Apa yang anda lakukan ? Pasti anda tidak akan langsung terpaku pada satu buku, dan membacanya sampai tuntas. Anda akan membuka buku-buku, membaca halaman sampul dan membaca daftar isi. Apa yang anda lakukan tersebut termasuk membaca ekstensif.
Membaca ekstensif merupakan proses membaca yang dilakukan secara luas. Luas bermakna (1) bahan-bahan bacaan beraneka dan banyak ragamnya. (2) waktu yang digunakan cepat dan singkat. Tujuan membaca ekstensif adalah sekadar memahami isi yang penting dari bacaan dengan waktu yang cepat dan singkat.
Menurut Broughton dalam Tarigan (1985:31), membaca ekstensif meliputi membaca survei, membaca sekilas, dan membaca dangkal. Ketiga macam membaca ekstensif tersebut diuraikan di bawah ini.
  1. Membaca Survei
Membaca survei merupakan kegiatan membaca yang bertujuan untuk mengetahui gambaran-gambaran umum isi dan ruang lingkup bahan bacaan. Membaca survei merupakan kegiatan membaca, misalnya melihat judul, pengarang, daftar isi dan lain-lain
  1. Membaca Sekilas
Membaca sekilas adalah membaca yang membuat mata kita bergerak cepat melihat dan memperhatikan bahan tertulis untuk mencari dan mendapatkan informasi secara cepat. Membaca sekilas disebut juga skimming, yakni kegiatan membaca secara cepat dan selektif serta mempunyai. Membaca sekilas disebut juga membaca layap, yakni membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum suatu bacaan atau bagian-bagiannya. Membaca sekilas merupakan salah satu teknik dalam membaca cepat.
Soedarso (1991 : 88-89) menyatakan bahwa skimming adalah suatu keterampilan membaca yang diatur secara sistematis unuk mendapatkan hasil yang efesien dengan tujuan :
1)      mengetahui topik bacaan ;
2)      mengetahui pendapat orang lain ;
3)      mendapatkan bagian penting tanpa membaca seluruhnya ;
4)      mengetahui organisasi tulisan ;
5)      menyegarkan apa yang pernah dibaca ;
c.   Membaca Dangkal
Membaca dangkal merupakan kegiatan membaca untuk memperoleh pemahaman yang dangkal dari bahan bacaan yang kita baca. Bahan bacaannya merupakan jenis bahan bacaan ringan karena tujuan membaca dangkal adalah untuk mencari kesenangan.
2.  Membaca Intensif
            Jika membaca sebuah bahan bacaan secara telii dengan tujuan memahaminya secara rinci, anda berarti melakukan membaca intensif. Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara seksama dan merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis. Tarigan (1990 : 35) yang mengutip pendapat Brook tentang membaca intensif menyatakan bahwa membaca intensif merupaan studi saksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan. Membaca intensif adalah kegiatan membaca dengan penuh saksama terhadap suatu bacaan sehingga timbul pemahaman yang tinggi.
            Tarigan (1985 : 35) membagi membaca intensif menjadi dua kelompok, yakni membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi meliputi membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis dan membaca ide, sedangkan membaca telaah bahasa meliputi membaca telaah bahasa dan membaca telaah sastra.

a.   Membaca Pemahaman
            Membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memahami bacaan secara tepat dan cepat. Menurut Kamidjan (1996) sejumlah aspek yang diperlukan pembaca dalam membaca pemahaman adalah :
1)      memiliki kosa kata yang banyak ;
2)      memiliki kemampuan menafsirkan makna kata, frasa, kalimat, dan wacana ;
3)      memiliki kemampuan menangkap ide pokok dan ide penunjang ;
4)      memiliki kemampuan menangkap garis besar bacaan dan rinciannya ;
5)      memiliki kemampuan menangkap urutan peristiwa dalam bacaan.
Dalam membaca jenis ini, yang diutamakan adalah pemahaman isi  wacana.
b.   Membaca Kritis
            Sewaktu membaca bahan bacaan, dalam diri anda timbul pertanyaan, ”mengapa penulis berpendapat demikian, apa maksud penulis dan sebagainya”. Itu berarti anda telah ersikap kritis terhadap bacan dan penulisnya.
            Membaca kritis ialah kegiatan membaca yang dilakukan dengan bijaksana, penuh tenggang rasa, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan ingin mencari kesalahan penulisnya. Membaca kritis ialah kemampuan berfikir dan bersikap kritis. Dalam membaca kritis, pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis.
            Adapun kemampuan berfikir dan bersifat kritis menurut Nurhadi (1987 : 143) meliputi :
a.       menginteprestasi secara kritis ;
b.      menganalisis secara kritis ;
c.       mengorganisasi secara kritis ;
d.      menilai secara kritis ;
e.       menerapkan konsep secara kritis.
Pelatihan peningkatan sikap kritis meliputi 1) kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan, 2) kemampuan menginterapsikan makna tersirat, 3) kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dalam bacaan, 4) kemampuan menganalisis isi bacaan, 5) kemampuan membuat sintesis dan 6) kemampuan menilai isi bacaan (Nurhadi, 1987 : 143-181). Keenam sikap kritis tersebut sejalan dengan ranah kognitif dalam taksonomi Bloom.
(1) Kemampuan mengingat dan mengenali ditandai dengan :
a)      mengenali ide pokok paragraf ;
b)      mengenali tokoh-tokoh cerita dan sifat-sifatnya ;
c)      menyatakan kembali ide pokok paragraf ;
d)     menyatakan kembali fakta-fakta/detail bacaan ;
e)      menyatakan kembali fakta-fakta perbandingan, unsur-unsur hubungan sebab akibat, karakter tokoh, dan sebagainya.
(2) Kemampuan menginterapsi makna tersirat ditandai dengan :
a)      menafsirkan ide pokok paragraf ;
b)      menafsirkan gagasan utama bacaan ;
c)      membedakan fakta/detail bacaan ;
d)     menafsirkan ide-ide penunjang ;
e)      membedakan fakta/detail bacaan ;
f)       memahami secara kritis hubungan sebab-akibat ;
g)      memahami secara kritis unsur-unsur perbandingan.
(3) Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsepditandai dengan :
a)      mengikuti petunjuk-petunjuk dalam bacaan ;
b)      menerapkan konsep-konsep/gagasan utam bacaan ke dalam situsi baru yang problematis ;
c)      menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi.
(4) Kemampuan menganalisis ditandai dengan :
a)      memeriksa gagasan utama bacaan ;
b)      memberikan detail/fakta penunjang ;
c)      mengklasifikasikan fakta-fakta ;
d)     membandingkan antargagasan yang ada dalam bacaan ;
e)      membandingkan tokoh-tokoh yang ada dalam bacaan.
(5) Kemampuan membuat sintesis ditandai dengan :
a)      membuat simpulan bacaan ;
b)      mengorganisasikan gagasan utama bacaan ;
c)      menentukan tema bacaan ;
d)     menyusun kerangka bacaan ;
e)      menghubungkan data sehingga diperoleh kesimpulan ;
f)       membuat ringkasan.
(6) Kemampuan menilai isi bacaan ditandai dengan :
a)      menilai kebenaran gagasan utama/ide pokok paragraf/bacaan secara keseluruhan ;
b)      menilai dan menentukan bahwa sebuah pernyataan adalah fakta atau opini;
c)      menilai dan menentukan bahwa sebuah bacaan diangkat dari realitas atau fantasi pengarang ;
d)     menentukan relevansi antara tujuan dan pengembangan gagasan ;
e)      menentukan keselarasan antara data yang diungkapkan dengan kesimpulan yang dibuat ;
f)       menilai keakuratan dalam penggunaan bahasa, baik pada tataran kata, frasa, atau penyusunan kalimat.
                                      
Proses Membaca

            Membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. (Hodgson dalam Tarigan, 1985:7).
Membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat  menyeluruh tenang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. (Depdikbud, 1985:11). Batasan tersebut lebih tepat jika dikenakan pada membaca tingkat lanjut , yakni membaca kritis dan membaca kreatif.
Selanjutnya, Anderson dalam Tarigan (1985:7) berpendapat bahwa membaca adalah proses keiatan memncocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Batasan membaca tersebut dikenakan pada membaca level yang paling rendah. Fiochiaro dan Bonono(1985:119) menyatakan bahwa membaca adalah proses memahami arti/makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan itu lebih tepat dikenakan pada membaca literal.
Menurut Harras dan Sulistianingsih (1997:1998), membaca merupakan proses psikologis, sensori, perseptual, dan proses perkembangan keterampilan berbahasa. Membaca sebagai proses psikologis, artinya adalah kesiapan dan kemampuan membaca sangat dipengaruhi dan berkaitan erat dengan faktor-faktor yang bersifat psikis seperti motivasi, minat, latar belakang sosial ekonomi, serta tingkat perkembangan diri, seperti inteligensi dan usia mental. Membaca sebagai proses sensoris berarti bahwa membaca dimulai dari melihat atau meraba dengan indera penglihatan dan perabaan. Membaca sebagai proses perseptual berarti bahwa dalam membaca, persepsi dimulai dari melihat dan mendengar. Menurut Vernon (1962), proses perseptual dalam membaca terdiri atas empat bagian, yakni:
1. kesadaran akan rangsangan visual
2. kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum
3. klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada dalam
    kelas yang umum
4. identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.
Membaca sebagai proses perkembangan berari bahwa membaca merupakan proses perkembangan sepanjang hidup seseorang. Membaca merupakan sesuatu yang diajarkan dan dipelajari, bukan sesuatu yang terjadi secara insidental. 



C. Rangkuman
         Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Di samping itu tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh informasi yang mencakup isi, dan memahami makna bacaan.
         Kegiatan membaca melibatkan dua aspek penting yaitu: a. Keterampilan yang bersifat mekanis, yang  meliputi pengenalan huruf, unsur-unsur linguistik, hubungan ejaan dan bunyi  serta kecepatan membaca bertaraf lambat. b. Keterampilan yang bersifat pemahaman yang meliputi pemahaman pengertian yang sederhana, pemahaman makna , evaluasi, serta kecepatan yang fleksibel.
         Untuk mencapai tujuan yang terdapat dalam keterampilan mekanis tersebut, maka aktivitas yang paling sesuai adalah membaca nyaring. Dan untuk keterampilan pemahaman adalah dengan membaca dalam hati. Membaca dalam hati terdiri dari membaca ekstensif dan intensif. Membaca ekstensif terdiri dari membaca survei, sekilas, dan dangkal. Sedangkan membaca intensif terdiri dari membaca telaah isi dan telaah bahasa. Telaah isi meliputi, membaca teliti, pemahaman, kritis, dan ide. Sedangkan telaah bahasa meliputi, membaca bahasa asing dan membaca sastra. Membaca merupakan proses psikologis, sensori, perseptual, dan proses perkembangan keterampilan berbahasa.





Kegiatan Belajar 2.


A. Tujuan Kegiatan Pembelajaran

            Sesudah memahami dan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari modul ini, peserta diklat dituntut pula untuk dapat menyampaikan kemampuannya itu kepada anak didik untuk dapat membaca lebih baik dan lebih cepat lagi.
            Mampu menerapkan teknik membaca skimming dan skanning. Di samping itu peserta diklat juga harus mampu menerapkan dan mengajarkan konsep-konsep dan langkah-langkah SQ3R dengan tepat. Kemudian untuk mengukur tingkat keterbacaan siswa, peserta diklat harus mampu menerapkan prosedur klose dalam pembelajaran, serta mampu membuat berbagai tes klose untuk berbagai keperluan dan tujuan.
B. Uraian Materi 
1. Membaca Cepat dan Efektif
    a. Pengertian
Membaca cepat dan efektif yaitu membaca yang mengutamakan kecepatan dan harus diikuti pula oleh peningkatan pemahaman terhadap bacaan. Mengapa kita dituntut untuk menjadi pembaca yang cepat dan efektif ? Pertama, yang perlu diingat ialah bahwa membaca itu sebuah proses yang kompleks dan rumit. Kompleks artinya dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal dapat berupa intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca, dan sebagainya. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan (sederhana - berat, mudah - sulit), faktor lingkungan, atau faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.
            Sebuah contoh, mengapa dalam proses membaca melibatkan faktor intelektual (IQ), kita semua sepakat bahwa membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir. Ingat apa kata seorang ahli membaca yang bernama Edward L. Thorndike, Reading as Thinking dan Reading as Reasoning. Artinya, bahwa proses membaca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. Dalam proses membaca ini terlibat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan, membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang yang terkandung dalam bacaan. Bukankah ini melibatkan tipe-tipe berpikir divergen (induktif), berpikir konvergen (deduktif), dan tipe berpikir abstrak ?
Nah, untuk inilah dalam membaca diperlukan potensi yang berupa kemampuan intelektual yang tinggi.
            Aspek intelektual yang lain, adalah minat. Hasil beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan adanya korelasi yang tinggi anatara minat terhadap bacaan dan kemampuan membacanya. Seseorang yang mempunyai minat dan perhatian yang tinggi terhadap bacaan tertentu, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap topik tersebut dibandingkandengan orang yang kurang berminat terhadap topik tersebut..
            Bagaimana dengan faktor eksternal ? Tidak banyak perbedaannya. Ada faktor-faktor eksternal tertentu yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca, seperti faktor sarana membaca. Penerangan yang jelek akan mempengaruhi hasil membaca. Ingat kejadian kelelahan mata yang kita alami ketika kita membaca di tempat yang kurang terang. Demikian juga faktor latar belakang sosial ekonomi. Status sosial ekonomi yang tinggi cenderung dilimpahi kemudahan sarana membaca yang memadai, sehingga terbentuk tradisi atau kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ini yang akan mempengaruhi kemampuan dan latihan membaca. Kebiasaan membaca akan berpengaruh pada kecepatan dan keefektifan membaca seseorang. Inilah yang dimaksudkan bahwa membaca itu adalah proses yang kompleks. Kedua, membaca itu rumit. Apa artinya? Rumit yang dimaksudkan bahwa faktor-faktor di atas (faktor internal dan eksternal) saling bertautan atau berhubungan, membentuk semacam koordinasi yang rumit untuk menunjang pemahaman terhadap bacaan. Ada saatnya pada tahap membaca tertentu, kemampuan intelektual dibutuhkan; dan pada saat yang lain, dibutuhkan faktor pengetahuan, pengalaman, dan persepsi untuk menelaah, menyintesis, menilai, atau membantu berimajinasi.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya membaca adalah proses yang kompleks dan rumit. Kemampuan membaca itu adalah kemampuan yang spesifik, yang menyebabkan setiap orang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda dengan orang lain. 

b.     Tuntutan Realitas Sehari-Hari

Berapa juta eksemplar surat kabar terbit hari ini di seluruh dunia? Berapa juta eksemplar majalah dalam berbagai jenis terbit setiap minggu? Berapa juta eksemplar buku terbit tiap tahun? Anda bisa membayangkan hal itu. Semuanya menyajikan informasi-informasi, baik pengetahuan, fakta, hasil penelitian, telaah perkembangan politik, ulasan, liputan peristiwa, dan sebagainya. Jika kita tidak mau dikatakan masyarakat yang paling terbelakang, maka ada semacam kewajiban atau kebutuhan untuk membaca, membaca, dan membaca seri-seri bahan cetak tersebut. Minimal yang berkepentingan dengan kebutuhan kita. Informasi apa yang tidak bisa kita jumpai dari bahan-bahan penerbit tersebut? Hampir tidak ada. Dan itu semua membutuhkan kecepatan dan ketepatan membaca yang tinggi.
            Perhatikan koran hari ini! Ingin memperoleh pekerjaan? Baca kolom iklan. Ingin tahu perkembangan politik luar negeri? Baca kolom liputan luar negeri. Ingin memasak masakan baru? Baca bagian ”menu hari ini”, dst.
            Belum lagi beribu-ribu judul buku yang terbit setiap tahun. Jelas bahwa tidak semuanya menuntut untuk kita baca. Akan tetapi, pada jenis-jenis tertentu, yang sesuai dan berkepentingan dengan hidup kita, tentu perlu untuk dibaca.
            Fakta di atas telah menunjukkan betapa peran membaca demikian besar merasuk ke segala segi kehidupan modern dewasa ini. Meskipun muncul media-media informasi yang lain, televisi, radio, misalnya, peran membaca tidak dapat digantikan sepenuhnya.

c.     Hasil Studi Membaca

Telah lama para ahli berusaha merumuskan dan mencari jawaban atas dua pertanyaan pokok tentang membaca, yaitu :
1)      bagaimana membaca yang baik itu? (Bagaimana menjadi pembaca yang efektif itu?)
2)      bagaimana mengajarkannya? Atau dengan kata lain, bagaimana melatih dan mengembangkannya?
Dua pertanyaan ini telah lama dicari jawabannya melalui berbagai pendekatan kajian, baik secara konseptual, empiris, maupun eksperimental. Pada akhirnya tak dapat dihindari berbagai variasi rumusan teori membaca dan penerapannya, namun satu hal yang pasti bahwa semua mengharapkan pada setiap orang untuk menjadi pembaca yang cepat dan efektif, saran-saran, serta langkah-langkah yang perlu dilakukannya.
            Demikianlah tiga hal yang bisa kita pahami bersama, yang membawa pada satu kesepakatan bahwa kemampuan membaca cepat dan efektif itu penting, terutama untuk dipelajari dan dikembangkan. Ingat pesan William Francis Bacon, seorang filsuf abad XVI yang lalu, yang mengatakan bahwa ”membaca membuat manusia penuh, berdiskusi membuat manusia siap, dan menulis membuat manusia cermat”.

2.     Masalah Umum yang Dihadapi Pembaca
Pada umumnya orang tak sadar dengan masalah membacanya. Kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahamannya. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari kecepatan dan pemahaman semula. Ada beberapa masalah dan hambatan yang umum terjadi pada setiap orang. Masalah tersebut antara lain :


a.     Rendahnya Tingkat Kecepatan Membaca
Berapa kecepatan membaca Anda? Bila kecepatan membaca sekitar 175 - 250 kata atau kurang, maka kecepatan membaca Anda termasuk rendah, sedangkan bila kecepatan itu berkisar antara 250 - 350 kata per menit, kecepatan membaca Anda termasuk sedang atau cukup memadai. Akan tetapi, bila kecepatan membaca berkisar antara 400 - 500 kata, atau bahkan lebih, Anda dikatakan sebagai pembaca yang cepat. Kecepatan membaca biasanya memang diukur dengan berapa banyaknya kata atau jumlah kata yang terbaca setiap menitnya. Jika teks itu cukup banyak, tinggal menghitung berapa jumlah kata, kemudian di bagi dengan waktu untuk menyelesaikannya.
            Masalah kecepatan membaca ini menjadi hambatan karena pada umumnya orang tidak ambil pusing dengan kebiasaan membacanya, termasuk cara membaca yang buruk. Misalnya kecepatan membaca yang rendah. Masalahnya, orang kebanyakan tidak menyadari bahwa ada jenjang kemampuan membaca cepat yang merentang dari tingkat rendah hingga tingkatan yang efektif. Ingat bahwa semakin tinggi tingkat kecepatan membaca seseorang, semakin efektif pula kebiasaan membacanya.
            Kemampuan membaca yang buruk (dalam arti rendahnya kecepatan membaca) jelas sangat mengganggu orang-orang yang sehari-harinya memang bergelut dengan buku. Misalnya pelajar dan mahasiswa. Sampai-sampai sering kita jumpai ada pelajar dan mahasiswa yang kekurangan waktu untuk membaca literatur-literatur yang diwajibkan padanya. Bukan karena waktu yang dimiliki kurang, melainkan karena banyaknya waktu tersita untuk membaca satu judul buku saja.  

b.     Minimnya Pemahaman yang Diperoleh
Tingkat pemahaman terhadap bacaan juga salah satu indikator keefektifan membaca seseorang. Jawablah pertanyaan di bawah ini. Pemahaman dianggap memadai pada kondisi normal, berkisar antara 40-60%, atau bila dapat menjawab dengan benar separuh dari jumlah pertanyaan. Minimnya tingkat pemahaman ini menjadi masalah karena ada kecendrungan anggapan bahwa semakin lambat cara membaca seseorang, semakin tinggi pula pemahamannya.padahal, pada kasus latihan membaca cepat, anggapan itu justru terbalik, yaitu peningkatan kecepatan membaca akan diikuti dengan peningkatan pemahaman bacaan.

c.     Kurangnya Minat Baca
Masalah ketiga, yang menjadi hambatan dalam masalah membaca, adalah kurangnya minat membaca. Mengapa? Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini. Mungkin faktor kebiasaan, sarana, buku-buku yang dibaca, atau kurang sesuainya bahan bacaan yang tersedia dengan minat yang dimiliki.
            Ada indikator bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa itu dapat diukur dari berapa banyak waktu sehari-hari yang digunakan warga untuk membaca. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk membaca, artinya menurut kebutuhan secara pribadi, bukan dipaksa membaca seperti halnya membaca demi tugas sekolah, maka semakin tinggi tingkat budaya bangsa tersebut. Konon, kabarnya, di negara-negaraseperti Swedia, Jerman Barat, Amerika Serikat, dan jepang, waktu bisa berarti membaca. Orang membaca bisa dijumpai di  mana saja: di perpustakaan umum, di taman, di terminal bus, dan bahkan dalam antrian karcis bioskop.

d.     Minimnya Pengetahuan tentang Cara Membaca yang Cepat dan Efektif
Pengetahuan tentang cara membaca yang efektif tampaknya juga merupakan faktor yang tak kalah pentingnya sebagai masalah dalam membaca. Secara teoretis, seorang pembaca yang lambat pada hakikatnya bukanlah pembaca yang bodoh, tetapi mungkin ia hanyalah seorang pembaca yang tidak efisien. Dan hal ini bisa dipelajari serta ditingkatkan, yang jelas faktor ketidaktahuan ini banyak menjadi hambatan membaca pada setiap pembaca.
            Bagaimana cara mengatasinya? Salah satunya adalah mengetahui berbagai teknik dan metode mengembangkan kecepatan membaca, mengetahui berbagai variasi teknik sesuai dengan tujuan membaca, mengetahui berbagai faktor penghambat kecepatan membaca, serta melihat kemungkinan mengembangkannya. Yang terakhir barangkali lebih utama, yaitu aktivitas membaca itu sendiri, yakni membaca, membaca, dan terus membaca.
e.     Adanya Gangguan-gangguan Fisik yang Secara Tak Sadar Menghambat Kecepatan    Membaca  antara lain :       
  • membantu melihat /menelusuri baris-baris bacaan dengan alat-alat tertentu (ujung pensil, jari tangan)
  • menggerak-gerakkan kaki menurut irama musik yang diperdengarkan
  • membaca sambil bergumam-gumam, atau bersenandung
  • kebiasaan berhenti lama pada setiap awal baris
  • kebiasaan mengulang-ulang unit bahasa yang telah dibaca dan sebagainya.

3.     Pembaca yang Efektif dan Pembaca yang Tidak Efektif
a.     Anda Dikatakan Sebagai Pembaca yang Kurang Efektif bila :
  • membaca dengan kecepatan rendah, umumnya antara 100-200 kata per menit atau kurang.
  • membaca dengan kecepatan konstan untuk berbagai cuaca dan kondisi membaca. Kecepatan itu selalu sama meskipun pada tujuan, bahkan bacaan, dan keperluan yang berbeda.
  • Gerak mata diarahkan /dipusatkan pada kata demi kata dan memahaminya secara terputus.
  • Banyak terjadi pengulangan gerak mata (regresi).
  • Menggerakkan bola mata 8 - 12 kali atau lebih pada setiap baris bacaan.
  • Memvokalkan (melisankan) bahan bacaan. Proses membaca diikuti gerak mulut atau anggota badan lainnya.
  • Menarik makna literalnya dulu (fakta-fakta), unsur sub ordinatnya, baru kemudian menyimpulkan gagasan utamnya
  • Membaca pasif kalimat demi kalimat.
  • Konsentrasi tidak sempurna
  • Membaca jika ada keperluan atau ada paksaan dari orang lain.



b.     Anda Dikatakan Sebagai Pembaca yang Efektif bila :
  • Membaca dengan kecepatan tinggi, biasanya berkisar antara 325-450 kata per menit atau lebih.
  • Kecepatan membaca bervariasi, bergantung pada tujuan, keperluan, dan bahan bacaan
  • Aspek yang dibaca adalah satuan pikiran, ide, atau kata-kata kunci saja.
  • Sedikit terjadi pengulangan gerak mata (regresi). Ketepatan selalu akurat tanpa banyak berhenti.
  • Menggerakkan bola mata 3 - 4 kali pada setiap baris bacaan.
  • Waktu membaca, secara fisik diam.
  • Makna yang diambil adalah gagasan- gagasan pokok saja, tanpa banyak melihat unsur-unsur yang kurang menunjang.
  • Membaca dengan sikap aktif, kritis, dan kreatif.
  • Konsentrasi terhadap bahan bacaan sempurna
  • Membaca dipandang sebagai kebutuhan, bukan suatu tugas atau beban. Keperluan atau desakan untuk membaca selalu ada.

4.     Metode Mengembangkan Kecepatan Membaca
a.     Metode Kosa Kata
b.     Metode Motivasi (minat)
c.     Metode Gerak Mata      (Nurhadi)

5.     Mengukur Kemampuan Membaca
Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan. Kecepatan membaca dapat diukur dengan cara :  jumlah kata dibagi waktu yang diperlukan (dalam detik) dikali 60, hasilnya kata per menit / kpm.
Cara mengukur kemampuan membaca ialah :  jumlah kata per menit (kecepatan membaca) dikalikan dengan presentase pemahaman isi bacaan. Misalnya, jika kecepatan membaca 200 kpm, dan jawaban yang benar diatas pertanyaan-pertanyaan isi bacaan itu adalah 60%, maka kemapuan baca Anda adalah
200 X 60% = 120 kpm. Jika lulusan SMU diharapkan memiliki kecepatan membaca minimal 250 kpm dengan pemahaman 70%, maka kemampuan membaca minimal lulusan SMU adalah 250 X 70% = 175 kpm

2. Teknik Membaca Skimming dan Skanning
    A. Teknik Membaca Sekilas (Skimming)
            Dalam pembahasan membaca ekstensif, membaca sekilas (skimming) telah dibicarakan. Bila anda mencari sebuah buku di perpustakaan, mengenali isi buku secara cepat dengan cara membuka daftar isi, membaca kata pengantar, atau halaman sampul belakang, anda hendaknya melakukan skimming.
         Dalam menghadapi sebuah bacaan, anda harus memperlakukannya sesuai dengan maksud anda. Jika fakta dan detail tidak anda perlukan, lompati bagian tersebut. Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok ini disebut skimming.
         Skimming bukan sekedar menyapu halaman buku, melainkan suatu keterampilan membaca yang diatur secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efesien, untuk mendapatkan berbagai tujuan membaca, misalnya :
1)      mengenali topik bacaan ;
2)      mengetahui pendapat orang ;
3)      mendapatkan bagian penting yang kita perlu tanpa membaca seluruhnya ;
4)      mengetahui organisasi tulisan, urutan ide pokok ;
5)      penyegaran.
Nurhadi (1987) menuliskan langkah-langkah membaca sekilas sebagai berikut :
1)      pertanyakan dulu, ”Apa yang akan anda cari dari buku ini ?”
2)      baca daftar isi atau pengantar !
3)      telusuri dengan kecepatan tinggi dengan judul, subjudul !
4)      berhentilah ketika anda telah menemukan bagian yang anda cari !
5)      baca dengan kecepatan normal dan pahami !


B.     Teknik Membaca Skanning
    Sebaliknya, jika Anda hanya membutuhkan suatu fakta tertentu saja, atau informasi tertentu saja, atau data statistik tertentu saja, misalnya Anda perlu melompati lainnya dan langsung mencari ke hal tertentu saja. Teknik melompati (skipping) untuk langsung ke sasaran yang kita cari itu disebut skanning
             Langkah-langkah yang bisa ditempuh adalah sebagai berikut :
1)      Lihat daftar isi dan kata pengantar secara sekilas.
2)      Telaah secara singkat latar belakang penulisan buku.
3)      Baca bagian pendahuluan secara singkat.
4)      Cari dalam daftar isi bab-bab yang penting. Cari dalam halaman-halaman buku bab yang penting tersebut, kemudian baca beberapa kalimat yang penting.
5)      Baca bagian kesimpulan (jika ada).
6)      Lihat secara sekilas adakah daftar pustaka, daftar indeks, atau apendiks.

c.                   Teknik SQ3R
            SQ3R merupakan kependekan dari Survei, Question, Read, Recite, dan Review. Metode ini dikemukakan oleh Francis P.Robinson tahun 1941.
            Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari penggunaan metode ini dalam kegiatan membaca.
1)      Dengan metode ini pembaca dapat mentukan apakah materi yang dihadapinya sesuai dengan keperluannya atau tidak. Jika bacaan itu memang diperlukannya, tentu pembaca akan meneruskan kegiatan bacanya. Jka tidak pembaca akan mencari bahan lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini dilakukan setelah pembaca melakukan survei terhadap bacaan.
2)      Metode ini memberi kesempatan kepada para pembaca untuk lebih fleksibel. Pengaturan kecepatan membaca untuk setiap bahan bacaan tidaklah sama. Pembaca akan memperlambat waktu membacanya jika menemukan hal-hal baru yang perlu dipahami. Sebaliknya pembaca akan mempercepat waktu membacanya jika menemukan bagian-bagian yang kurang relevan dengan kebutuhannya.
3)      Metode ini membekali pembaca dengan metode yang sistematis, untuk menghasilkan efisiensi dan efektifitas hasil belajar. Menghasilkan pemahaman yang komprehensif, bukan ingatan pemahaman yang komprehensif relatif akan bertahan lebih lama tersimpan di dalam otak kita daripada hanya sekedar mengingat fakta.
Deskripsi kegiatan untuk masing-masing fase dalam  SQ3R adalah sebagai  berikut :


Langkah 1: S – Survei
            Survei atau prabaca adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap, dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk :
1)      Mempercepat menangkap arti,
2)      Mendapatkan abstrak,
3)      Mengetahui ide-ide yang penting,
4)      Melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut,
5)      Mendapatkan minat perhatian yang saksama terhadap bacaan, dan
6)      Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Prabaca dilakukan hanya beberapa menit, tetapi dengan cara yang sistematis kita cepat menemukan ide-ide penting dan organisasi bahan. Hal itu akan sangat membantu mencapai tujuan kita membaca. Selain itu, prabaca juga digunakan untuk melihat suatu artikel di koran atau majalah dan menimbang-nimbang buku di perpustakaan atau di toko buku untuk mengetahui : Apakah tulisan atau buku ini cocok dengan kebutuhan saya ? Tidak terlalu sulit ? Atau terlalu dangkal ? Apakah cocok dengan literatur yang disarankan ?



Langkah 2 : Q – Question
            Bersamaan pada saat survei, ajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan itu, dengan mengubah judul dan subjudul serta sub dari subjudul menjadi suatu pertanyaan. Gunakan kata-kata ’siapa, apa, kapan, di mana, atau mengapa’. Misalnya, subjudul itu ”Kekurangan Tenaga Ahli Ilmiah dan Teknik”, dapat diubah dengan bertanya : Mengapa kekurangan tenaga ahli ilmiah dan teknik ? Mungkin pertanyaan itu dapat anda persempit lagi dengan dengan mengaitkan pengetahuan anda : Apa kurikulum di perguruan tinggi kurang memadai ? Apa akibatnya terhadap perkembangan iptek ?
            Pada waktu survei buku secara keseluruhan, pertanyaan anda mungkin terlalu umum, tetapi pada saat survei pada bab ke bab pertanyaan-pertanyaan itu dapat lebih spesifik. Suatu pertanyaan dapat menimbulkan beberapapertanyaan lain tentang isi secara lebih mendalam. Dengan adanya berbagai pertanyaan itu cara membaca kita menjadi lebih aktif dan lebih mudah menangkap gagasan yang ada daripada kalau hanya membaca asal membaca.

Langkah 3 : R – Read
            Setelah melewati tahap survei dan timbul beberapa pertanyaan yang anda harapkan akan mendapat jawaba di bacaan yang anda hadapi, langkah berikutnya adalah : Read, membaca.
            Jadi, membaca itu baru langkah ketiga, bukan langkah pertama atau satu-satunya langkah untuk menguasai bacaan. Cara membaca pun bukan seperti membaca novel, hanya mengkuti apa yang sedang berlangsung, melainkan secara kritis.
            Baca tulisan itu bagian demi bagian. Sementara membaca bagian-bagian itu carilah jawaba atas pertanyaan yang anda bentuk berdasarkan judul-judul atau bagian atau pertanyaan lain yang muncul sehubungan dengan topik bacaan itu.
            Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting, yang mendukung ide pokok. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dan percepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah anda ketahui.
            Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu : (1) Jangan membuat catatan-catatan. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. Selain itu juga berbahaya, catatan anda itu bisa jadi hanya merupakan kutipan kata-kata penulisnya saja. (2) Jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu, bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya. Kalau memang ada yang menarik atau anda anggap penting cukup beri tanda silang di pinggir halaman dulu. Untuk kemudian nanti dicek kembali.
            Pada tahap membaca ini, konsentrasikan diri untuk mendapatkan ide pokoknya serta mengetahui detail yang penting.

Langkah 4 : R – Recite atau Recall
            Setiap selesai membaca suatu bagian, berhentilah sejenak. Dan cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. Pada kesempatan itu, anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Jika masih mengalami kesulitan, ulangi membaca bab itu sekali lagi. Sebelum menginjak langkah selanjutnya, pastikan empat langkah ini anda jalani dengan benar. Sekalipun bahan itu mudah dimengerti, tahap mengutarakan kembali hal-hal penting itu jangan dilewatkan agar tidak mudah kita lupakan.
            Berapa lama untuk tahap ini ? Anda perlu menyediakan waktu setengah dari waktu untuk membaca. Hal ini bukan merupakan pemborosan waktu, melainkan memang diperlukan untuk tahap ini. Justru pembaca yang hanya membaca sekadar membaca itu memboroskan waktu. Sekalipun mereka mengerti apa yang dibaca, tetapi akan segera melupakannya.

Langkah 5 : R – Review
            Daya ingat kita terbatas. Sekalipun pada waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan, kemampuan kita dalam waktu 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. Dan, dalam tempo dua minggu pemahaman kita tinggal 20%.
            Oleh karena itu, janganlah anda lewatkan langkah terakhir ini : Review. Setelah selesai keseluruhan dari apa yang harus dibaca, ulangi untuk menelusuri kembali judul-judul dan subjudul dan bagian-bagian penting lainnya dengan menemukan pokok-pokok penting yang perlu untuk diingat kembali. Tahap ini selain membantu daya ingat dan memperjelas pemahaman juga untuk mendapatkan hal-hal penting yang barangkali kita lewati sebelum ini. 

4.   Prosedur Klose
Pengertian
            Metode yang dipandang paling berhasil dalam pembeajaran membaca adalah prosedur klose. Selain dapat dipergunakan sebagai alat untuk pengajaran membaca juga untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa.
Metode ini diperkenalkan oleh Wilson Taylor (1953) yang berasal dari istilah ”Clozure” suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt. Konsepnya menjelaskan tentang kecenderungan orang untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap, secara mental menjadi suatu kesatuan yang utuh, melihat bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan.
            Dalam prosedur klose pembaca diminta untuk dapat memahami wacana yang tidak lengkap. Bagian-bagian tertentu dihilangkan dengan pemahaman yang sempurna. Bagian-bagian kata yang dihilangkan itu, biasanya kata ke-n digantikan dengan tanda garis lurus panjang atau dengan tanda titik-titik. Penghilangan bagian-bagian kata dalam prosedur. Klose, mungkin juga tidak berdasarkan kata ke-n secara konsisten dan sistematis. Kadang-kadang pertimbangan lain turut menentukan kriteria pengosongan kata. Misalnya saja kata kerja, kata benda, kata penghubung, atau kata-kata tertentu yang dianggap penting. Tugas pembaca adalah mengisi bagian-bagian yang kosong itu dengan kata-kata yang tepat.

Fungsi
            Berbicara tentang fungsi prosedur klose, terdapat dua fungsi utama dari prosedur ini. Pertama sebagai alat untuk mengukur tingkat keterbacaan. Suatu wacana dapat ditentukan tingkat kesukarannya serta dapat diketahui kelayakan pemakaiannya untuk sisiwa. Kedua prosedur klose juga merupakan suatu alat pengajaran membaca. Dalam fungsinya sebagai alat ajar, penggunaan teknik klose dapat dipergunakan untuk melatih kemampuan dan keterampilan membaca siswa.

Nah, perhaikan wacana berikut:
            Anak perlu dikenalkan kepada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan......(1) dan emosinya. Anda dapat......(2) proses mekarnya bunga dan......(3) aneka warna bunga pada......(4). Kepada anak yang lebih......(5) anda dapat menceritakan bentuk......(6) warna bunga yang indah......(7) baunya yang harum atau......(8) membuat serangga tertarik dan......(9) untuk menghisap madu.

Bandingkan dengan wacana di bawah ini !
            Selain itu pengenalan......(1) alam sekitar.....(2) penting.....(3), merangsang kepekaan penginderaan anak. Tangannya bisa setiapkali disentuhkan.....(4) permukaan daun......(5) ujung daun.....(6) melatih alat perabanya. Anak.....(7) sudah pandai berjalan.....(8) diajak menginjak rumput.....(9) berembun......(10) pagi.
            Apa kesimpulan anda setelah membaca kedua wacana di atas ? Penggunaan teknik klose di atas tidak sama, bukan ? Pengosongan pada wacana pertama dilakukan dengan tingkat teraturan yang konsisten. Perhatikan, setiap kata keberapa penghilangan itu dilakukan ?   Pengosongan pada wacana kedua, tidak dilakukan atas dasar keteraturan jarak penghilangan. Perhatikan sekali wacana tersebut ! Dapatkah anda menemukan sesuatu dari bagian-bagian yang dihilangkan itu ? Ternyata semuanya adalah kata-kata tugas, bukan ? Nah, bandingkanlah dengan teks aslinya.



Wacana 1
            Anak perlu diperkenalkan kepada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan intelektual (1) dan emosinya. Anda dapat menceritakan (2) proses mekarnya bunga dan mengenalkan (3) aneka warna bunga pada anak (4). Kepada anak yang lebih besar (5) anda dapat menceritakan bentuk dan (6) warna bunga yang indah serta (7) baunya yang harum atau yang (8) membuat serangga tertarik dan datang (9) untuk menghisap madu.
Wacana 2
Selain itu pengenalan terhadap (1) alam sekitar juga (2) penting untuk (3), merangsang kepekaan penginderaan anak. Tangannya bisa setiapkali disentuhkan ke (4) permukaan daun dan (5) ujung daun untuk (6) melatih alat perabanya. Anak yang (7) sudah pandai berjalan dapat (8) diajak menginjak rumput yang (9) berembun setiap (10) pagi.
            Jawaban siswa untuk mengisi teknik klose dan fungsinya sebagai alat ukur, hendaknya tepat benar, sesuai dengan teks aslinya.
            Dalam kenyataannya, penggunaan teknik klose, tidak selalu menuntut jawaban yang persisi sama sesuai dengan teks aslinya. Kata-kata yang bersinonim atau kata-kata yang dapat menggantikan kedudukan kata asli, baik ditinjau dari sudut makna atau struktur kalimatnya benar, dapat diterima. Cara ini biasanya dipergunakan dalam teknik pengajaran untuk melatih keterampilan membaca siswa.
            Perhatikan contoh berikut dan lengkapilah bagian-bagian kalimat yang dihilangkan !
            ”Keinginan untuk memperoleh kasih sayang  dasar kecemburuan
antara saudara dalam keluarga.”
Cobalah anda isi ! Bandingkan jawaban anda dengan jawaban teman anda. Beraneka ragam, bukan ? Kata-kata : ialah, adalah, merupakan, menjadi, dan seterusnya boleh jadi menjadi pilihan anda dan teman anda.
            Penghilangan (delisi) untuk teknik klose sebagai alat ajar, tidak selalu harus dengan jarak yang sama. Sebagai guru, anda tentu lebih tahu, apa yang dibutuhkan siswa anda. Yang terpenting ialah tindak dari kegiatan ini. Diskusikanlah setiap alternatif jawaban yang diajukan siswa. Bicarakanlah alasan ketepatan atau kesalahan jawaban siswa, agar mereka lebih mengerti.

Kegunaan
            Apa manfaat teknik klose untuk anda dan siswa anda ? kembali kepada dua fungsi utama yang telah dibicarakan di muka, teknik klose bermanfaat untuk :
1)      Mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana untuk :
a)      Menguji tingkat kesukaran dan kemudahan bahan bacaan ;
b)      Mengklasifikasikan tingkat baca siswa : pembaca independen, instruksional, atau frustasi,dan
c)      Mengetahui kelayakan wacana sesuai dengan peringkat siswa.
2)      Melatih keterampilan dan kemampuan baca siswa melalui kegiatan belajar-mengajar, pengajaran membaca melatih :
a)      Siswa menggunakan isyarat sintaksis ;
b)      Siswa menggunakan isyarat semantik ;
c)      Siswa menggunakan isyarat skematis ;
d)     Peningkatan kosa kata ; dan
e)      Daya nalar siswa dalam upaya pemahaman bacaan.
Dengan manfaat-manfaat yang telah diuraikan tersebut, guru dalam waktu relatif singkat akan segera dapat mengetahui tingkat keterbacaan wacana, tingkat keterbacaan siswa, latar belakang pengalaman, minat dan bahasa siswa. Dengan demikian, guru akan dapat dengan tepat membuat keputusan instruksional untuk membantu anak didiknya dalam belajar, khususnya dalam kegiatan membaca.

Kriteria Pembuatan Klose
            Sebelum anda mencoba berlatih membaca dan atau menggunakannya dalam pengajaran membaca untuk siswa anda, tentu terlebih dahulu anda harus mengetahui kriteria pembuatannya. Setidak-tidaknya anda harus mengetahui aturan yang baku/standar, meskipun mungkin anda memiliki ide baru yang lebih jitu.
            Wilson Taylor (1953) sebagai pencipta teknik ini, mengusulkan sebuah prosedur yang baku untuk sebuah konstruksi klose, sebagai berikut :
1)      Memilih suatu wacana yang relatif sempurna yakni wacana yang tidak tergantung pada informasi sebelumnya.
2)      Melakukan penghilangan/pengosongan kata ke-n, tanpa memperhatikan arti dan fungsi kata-kata yang dihilangkan.
3)      Mengganti bagian-bagian yang dihilangkan tersebut dengan tanda garis lurus datar yang sama panjangnya.
4)      Memberi salinan (copy) dari semua bagian yang direproduksi kepada siswa/peserta tes.
5)      Mengingatkan siswa untuk berusaha mengisi semua delisi dengan pertanyaan-pertanyaan dari konteks atau kat-kata sisanya.
6)      Menyediakan waktu yang relatif cukup untuk memberi kesempatan kepada siswa dalam menyelesaikan tugasnya.

John Haskall menyempurnakan konstruksi tersebut dengan variasi sebagai berikut :
1)      Memilih suatu teks yang panjangnya lebih kurang 250 kata.
2)      Biarkan kalimat pertama dan kalimat terakhir utuh.
3)      Mulailah penghilangan itu dari kalimat kedua, yakni pada setiap kata kelima. Pengosongan ditandai dengan garis lurus mendatar.
4)      Jika kebetulan kata kelima jatuh pada kata bilangan, janganlah melakukan delisi pada kata tersebut. Biarkan kata itu hadir secara utuh, sebagai gantinya mulailah kembali dengan hitungan kelima.

Bagaimana jika anda ingin melatih kecakapan penggunaan kata penghubung siswa anda dengan menggunakan teknik klose/adakah keberatan anda terhadap prosedur baku yang dikemukakan di atas ? Coba renungkan sekali lagi !
      Dalam suatu teks/wacana, kata penghubung seperti yang anda maksud tidak selalu terletak pada setiap kata kelima atau ke-n, bukan ? Jika demikian halnya, kita perlu memisahkan kriteria (sesuai dengan fungsinya) pembuatan klose sebagai pedoman.
Untuk lebih mempermudah pemahaman anda lihatlah tabel berikut :

Karakteristik
Sebagai Alat Ukur
Sebagai Alat Ajar
1. Panjangnya
Antara 250-350 kata pilihan
Wacana yang terdir atas maksimal 500 kata
2. Delisi
Setiap kata ke-n hingga berjumlah lebih kurang 50 buah
Delisi secara selektif tergantung pada kebutuhan siswa dan pertimbangan guru
3. Evaluasi
Jawaban berupa kata persis sesuai dengan kunci/teks aslinya
Jawaban boleh berupa sinonim atau kata yang secara struktur dan makna dapat menggantikan kedudukan kata yang dihilangkan
4. Tindak Lanjut

Lakukan diskusi untuk membahas jawaban-jawaban siswa


            Bagaimana kesimpulan anda setelah membaca seluruh uraian mengenai prosedur klose ? Dapatkah anda mengaplikasikannya untuk kepentingan keterampilan baca anda ? Bagaimana pula dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa anda dalam pengajaran menbaca ?
            Untuk kepentingan keterampilan baca anda, mintalah bantuan teman anda untuk bertindak sebagai penguji. Lakukanlah secara bergilir dan bergantian agar semua mendapat giliran.
            Selain itu, cobalah anda membuat berbagai tes klose untuk berbagai keperluan dan tujuan. Perhatikan konsep-konsep dan prosedur pembuatannya terapkanlah kepada siswa anda selamat mencoba !

C. Rangkuman
            Membaca cepat dan efektif artinya membaca yang mengutamakan kecepatan serta diikuti pula oleh peningkatan pemahaman terhadap bacaan. Kecepatan membaca dapat diukur dengan mengalikan jumlah kata dengan 60 dibagi waktu yang diperlukan, hasilnya kata per menit. Sedangkan kemampuan membaca adalah hasil kali antara kecepatan membaca dengan persentase pemahaman.
            Kecepatan membaca dapat dikembangkan dengan berbagai metode yaitu: metode kosakata, metode motivasi, metode bantuan alat dan metode gerak mata.
            Teknik membaca skimming berarti menyapu halaman-halaman buku dengan cepat untuk menemukan sesuatu yang dicari. Sedangkan teknik skanning dilakukan bila anda  hanya membutuhkan suatu fakta tertentu saja, atau informasi tertentu saja, atau data statistik tertentu saja.
            Metode lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan membaca adalah SQ3R, yaitu singkatan dari Survei, Question, Read, Recite, dan Review.
            Metode yang dipandang paling berhasil dalam pembelajaran membaca adalah prosedur klose. Dalam prosedur klose pembaca diminta untuk dapat memahami wacana yang tidak lengkap. Metode ini memiliki dua fungsi utama yaitu, sebagai alat ukur untuk mengukur tingkat keterbacaan siswa dan dapat juga digunakan sebagai alat pengajaran membaca.
1.  PENGANTAR
Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ) menetapkan “keterbacaan wacana” sebagai salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh setiap buku pelajaran. Di lain pihak, rupanya masih banyak ditemui buku pelajaran yang belum  memiliki tingkat keterbacaan tinggi. Jika buku-buku seperti ini tetap akan dipakai sebagai bahan ajar di kelas, guru perlu menyelaraskan wacananya dengan daya baca siswa terlebih dahulu. Bertemali dengan hal  ini, Harjasujana (1987:25) mengingatkan kita (baca: Guru) melalui pernyataan berikut,  “ Salah satu dari tugas-tugas yang merupakan tantangan kuat yang terpenting bagi guru SLTP dan SLTA ialah menyelaraskan siswa dengan buku yang bisa digunakan secara efektif”.  Tulisan sederhana ini diniati untuk berbagi ilmu perihal keterbacaan dan teknik pengukurannya yang dilengkapi dengan contoh penghitungan.
Untuk dapat melakukan itu, tentu saja guru perlu memiliki kompetensi dan performansi yang memadai di bidang tersebut. Dalam kenyataan, terlihat kesan bahwa konsep keterbacaan belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian orang, termasuk oleh kalangan akademikus sekali pun. Ini terlihat dalam pemakaian istilah tersebut dalam kalimat. Mereka sering mempertukarkan penggunaan istilah “keterbacan” dengan “keterpahaman”, seakan-akan kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama.
Realita itu memicu penulis untuk melakukan kajian teoretis tentang ketebacaan dan seluk beluknya, dengan harapan kiranya tidak terjadi lagi perkeliruan penggunaan di masa mendatang. Keinginan hati ini terasa semakin menguat ketika mengetahui bahwa wacana berbahasa Indonesia yang membicarakan perihal keterbacaan ini ternyata masih sangat langka. Di atas kelangkaan sumber bahan ini, penulis merakitnya menjadi sebuah wacana sederhana seperti yang kini berada di tangan pembaca. Tujuan utamanya untuk berbagi ilmu, betapa pun belum sempurnanya ilmu yang disajikan di dalam wacana ini. Bukankah Tuhan menghimbau kita untuk selalu berbagi ilmu walau hanya satu ayat? Selamat membaca semoga bermanfaat.
2.  KETERBACAAN DAN KETERPAHAMAN: Sama atau berbedakah?
Echols dan Shadily (1982:468)  menjelaskan bahwa “keterbacaan” atau readable /ks/ berarti  “dapat dibaca”. Setelah membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:62) penulis mengetahui bahwa keterbacaan itu merupakan  “ … perihal dapat dibacanya teks secara cepat, mudah dimengerti, dipahami, dan mudah pula diingat”. Selanjutnya Cowie (1989:1043) selaku Chief Editor Oxford Advanced Learner’s Dictionary memadankan istilah  keterbacaan” ini dengan istilah read-able /adj/ dan atau read-ab-il-ity /n/ yang berarti “dapat dibaca dengan mudah dan nyaman”. Dalam pandangan Podo dan Sullivan (1989:79)  istilah readable bermakna “terbaca”.  Kridalaksana (1994) pun memaknai keterbacaan sebagai taraf dapat tidaknya suatu karya tulis dibaca oleh orang yang mempunyai  kemampuan membaca yang  berbeda-beda.
Sejalan dengan pandangan sebelumnya, Harjasujana dan Mulyati (1996/1997) selaku pakar membaca menjelaskan bahwa keterbacaan ini berkaitan dengan  perihal terbaca-tidaknya wacana oleh pembacanya. Pandangan senada dapat pula dilihat dalam konsep Depdiknas  (2005) yang memaknai  keterbacaan sebagai perihal kemudahan baca bagi siswa Selanjutnya Richards et al dalam Nababan (2007) mengungkapkan bahwa keterbacaan  pada dasarnya merujuk pada seberapa mudah teks tulis dapat  dibaca dan dipahami oleh pembaca.
Dengan mencermati pandangan para pakar sebelumnya, dapat kiranya ditegaskan bahwa sesungguhnya keterbacaan itu mempersoalkan tingkat kesulitan dan atau tingkat kemudahan-baca suatu bahan bacaan tertentu bagi peringkat  pembaca tertentu. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kajian keterbacaan sasaran utamanya adalah wacana, bukan pembaca wacananya (Sulastri, 2010). Oleh karena itu jika ditemukan adanya kalimat yang berbunyi, “Keterbacaan pembaca terhadap wacana ternyata masih rendah”, menurut penulis ini tergolong contoh pemakaian istilah keterbacaan yang keliru. Contoh-contoh sejenis ini ternyata banyak ditemukan, terutama dalam skripsi mahasiswa.
Kalau kita cermati lebih jauh, keterbacaan dan keterpahaman itu merupakan dua istilah yang sangat bertemali. Begitu bertemalinya, terkadang sebagian orang membuat definisi dan penjelasan yang membingungkan sehingga kita sulit menemukan pemisah antara yang satu dengan yang lainnya. Agar tidak terjadi salah kaprah –seperti contoh di atas– akibat kebingungan, kita harus mampu memilahnya agar terlihat jelas perbedaan antara keterbacaan dengan keterpahaman itu.
Untuk itu harus ada upaya. Setelah berburu sumber bahan, alhamdulillah rupanya Echol dan Shadily (1982: 134 ) membekali kita. Beliau memadankan istilah “keterpahaman” dengan comprehensible yang berarti “dapat dipahami”.  Berkaitan dengan ini, Flood (1984) dalam  Nababan (2007) menjelaskan pula bahwa keterpahaman pembaca sangat dipengaruhi oleh faktor keterbacaan wacana yang merupakan keseluruhan unsur dalam sebuah wacana tulis. Selanjutnya Sakri (1994) dalam Damaianti (1995) menambahkan bahwa “Salah satu faktor yang menentukan keterpahaman adalah  ketedasan”.
Nah, dari uraian sebelumnya  kita mulai melihat perbedaan dan hubungan kait antra kedua istila tersebut. Jika kita sepakat dengan pandangan sebelumnya,  tentu kini dapat diyakini  bahwa keterbacaan (readable) sesungguhnya berbeda dengan keterpahaman (comprehensible). Oleh arena itu, para peneliti keterbacaan seharusnyalah menjadikan wacana sebagai sasaran utama penelitiannya. Bagaimana dengan penelitian tentang keterpahaman? Kajian keterpahaman sasarannya tentulah pembaca wacana itu. Dengan informasi singkat ini, diharapkan tidak akan ditemui lagi perkeliruan dan salah kaprah  dalam pemakain kedua istilah itu. Semoga… !
Agar pembaca –terutama yang berminat meneliti keterbacaan– memperoleh wawasan keilmuan yang lebih luas dan lebih menukik prihal keterbacaan dan keterpahaman itu, sebaiknya meluangkan waktu untuk membaca ulasan dan atau hasil penelitian yang dilakukan antara lain oleh Sulastri (2010), Suherli (2008), Utorodewo (2007), Salem (1999), Harjasujana dan Mulyati (199/1997), Kurniawan (1996), Djajasudarma dan Nadeak (1996), Damaianti (1995), Baradja (1991), Tampobolon (1990), dan Hafni (1981).  Tentu saja akan lebih baik lagi jika kita memperkaya wawasan dengan membaca sajian terkait dari buku-buku sumber berbahasa asing yang lebih banyak tersedia.
3. KETERBACAAN: Seberapa pentingkah?
Pada bagian awal tulisan ini sudah dijelaskan bahwa BSNP telah menetapkan “Keterbacaan” sebagai salah satu dari lima aspek yang dijadikan standar penilaian buku pelajaran yang baik. Ini menandakan bahwa faktor keterbacaan wacana harus menjadi perhatian utama dalam penulisan wacana, terutama untuk bahan ajar dan buku pelajaran. Kita menyadari buku pelajaran adalah media pembelajaran yang dominan peranannya di kelas. Oleh karena itu, buku pelajaran harus dirancang dengan baik dan benar dengan memperhatikan kelima standar yang ditetapkan itu. Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22/2007 maka buku pelajaran yang dipakai di setiap sekolah seharusnya memenuhi standar kelayakan tersebut. Khusus mengenai keterbacaan, tentulah diharapkan kiranya wacana-wacana yang tersaji dalam buku pelajaran selalu memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi bagi siswa yang akan membacanya.
Berkaitan dengan itu, Klare (1984) menyatakan bahwa bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi akan mempengaruhi pembacanya. Bacaan seperti ini dapat meningkatkan minat belajar, menambah kecepatan dan efisiensi membaca. Tidak hanya itu, bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi biasanya dapat memelihara kebiasaan membaca para pembacanya karena mereka merasa dapat memahami wacana seperti itu dengan mudah.
Perlu disadari bahwa kemudahan pemahaman merupakan ciri yang harus dipertahankan dalam sebuah karya ilmiah. Semakin ilmiah sebuah karya tulis seharusnya pemahaman pun semakin mudah pula. Hal ini dapat dimengerti karena keilmiahan sebuah karya tulis berhubungan erat dengan faktor-faktor kesistematisan, kelogisan, kebahasaan, dan keteraturan dalam berpikir. Semua faktor ini kalau terpenuhi dengan baik sebetulnya akan mengarah kepada kemudahan pemahaman.
4. KETERBACAAN: Apa sajakah faktor yang mempengaruhinya?
Gray dan Leary yang dikedepankan oleh  Harjasujana dan Mulyati, (1996/1997) mengidentifikasi adanya 289 faktor yang mempengaruhi keterbacaan sebuah wacana. Dari sekian banyak faktor itu menurut mereka dua puluh faktor di antaranya  dinyatakan  signifikan. Untuk mengenal sebagian dari faktor-faktor dimaksud, mari kita simak pandangan para pakar tentang ini.
Dupuis dan Askov (1982) mengedepankan empat faktor penentu tingkat keterbacaan sebuah wacana. Keempat faktor tersebut adalah (1) faktor kebahasaan  dalam  teks,  (2) latar  belakang  pengetahuan  pembaca, (3) minat pembaca,  dan (4) motivasi pembaca.  Dalam hubungannya dengan faktor kebahasaan  seperti  yang diungkap Askov tersebut,  Nuttal (1989) merincinya menjadi dua faktor utama, yakni (1) kekomplekan ide dan bahasa yang terdapat dalam wacana serta (2) jenis kata yang  digunakan dalam wacana tersebut.
Masih tentang faktor-faktor yang mempengaruhi  tingkat keterbacaan wacana, Baradja (1991:128) menjelaskan bahwa, “faktor-faktor yang bertanggung jawab akan adanya kesulitan dalam hal membaca suatu teks banyak sekali”.  Faktor-faktor itu beliau kelompokkan menjadi dua, yaitu kesulitan secara makro dan mikro. Ke dalam faktor makro ini, Baradja menyebutnya antara lain perbedaan latar belakang penulis dengan pembaca, termasuk di dalamnya perbedaan pengetahuan, bahasa dan kode bahasa yang digunakan, kebudayaan dan  perbedaan asumsi. Dari segi mikro, ditulisnya antara lain  kesulitan dalam memahami ungkapan,  afiksasi,  kata  sambung,  serta pola kalimat. Kesulitan-kesulitan dari segi mikro ini, menurut beliau terutama dirasakan oleh orang asing yang membaca wacana berbahasa Indonesia atau sebaliknya oleh orang Indonesia yang membaca wacana berbahasa asing.
Demi menghemat ruang, dalam tulisan ini penulis akan merinci dua faktor saja  yang menurut para  pakar termasuk faktor yang paling sering  dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengukuran keterbacaan wacana berbahasa Indonesia.
1) Panjang kalimat dan kerumita kata
Menurut Hafni (1981:22) semua formula keterbacaan mempertimbangkan faktor panjang kalimat ini. Kalimat yang lebih panjang cendrung lebih ruwet dibandingkan dengan kalimat pendek. Lebih jauh dikatakannya bahwa panjang kalimat merupakan indeks yang mencerminkan adanya pengaruh jangka ingat (memory span) terhadap keterbacaan. Beberapa peneliti berdasarkan penelitian yang dilakukannya membuktikan bahwa faktor panjang kalimat ini termasuk salah satu faktor yang menyebabkan sebuah  wacana sulit dipahami (Lihat antara lain Damaianti, 1995 dan Kurniawan, 1996). Ini berarti bawa faktor panjang kalimat diyakini sangat berpengaruh terhadap tingkat keterbacaan  sebuah wacana.
Kecuali itu Hafni juga menegaskan bahwa “semua formula baca bertolak dari ukuran kata”. Berkaitan dengan ini, Harjasujana dan Mulyati  (1996/1997: 107)  menegaskan bahwa  “Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa ada dua faktor yang berpengaruh terhadap keterbacaan, yakni (1) panjang pendek kalimat, dan (2) tingkat kesulitan kata”.  Lebih jauh mereka mengatakan bahwa formula keterbacaan yang sering digunakan dewasa ini untuk mengukur keterbacaan wacana, berkecendrungan kepada kedua tolok ukur tadi.
Berdasarkan  kajian terhadap literatur lain  yang sempat penulis lakukan, ternyata kedua faktor tersebut  dijadikan sebagai dasar bagi pengukuran keterbacaan dalam  berbagai formula, seperti pada formula Spache, Dale & Chall, SMOG,  Fry, Rygor,  dan  Cartanya Rudolf Flesh (Hafni, 1981).
2) Perbedaan latar belakang penulis dengan pembaca
Seperti dikatakan Gray dan Lary pada bagian awal pembicaraan tentang faktor yang mempengaruhi keterbacaan ini,  Baradja (1991) juga mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keterbacaan wacana banyak sekali. Dia melihatnya secara makro dan mikro. Kesulitan-kesulitan dilihat dari segi makro menurutnya antara lain adalah faktor perbedaan latar belakang antara penulis dan pembaca. Perbedaan latar belakang ini menurutnya meliputi perbedaan budaya, asumsi,  dan penguasaan ilmu-ilmu  tertentu.
Dalam hubungan itu, sebagai contoh Baradja mengangkat cerita Gone With the Wind karya Margaret Mitchell. Menurut beliau cerita ini akan lebih mudah dipahami oleh orang Amerika dibanding oleh masyarakat Indonesia. Dengan lebih tegas diungkapkannya bahwa isi pesan yang dituangkan dalam cerita itu akan lebih mudah lagi dipahami orang Amerika yang hidup dan dibesarkan di daerah Atlanta, Amerika. Mengapa begitu? Hal ini tentu disebabkan adanya persamaan latar belakang dan persamaan kebudayaan antara penulis dan pembaca cerita tersebut karena cerita tersebut menurut beliau mengangkat fenomena yang terjadi di daerah Atlanta. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa cerita Gone With the Wind lebih kontekstual bagi masyarakat Atlanta.
Hal seperti digambarkan Baradja tadi (mungkin) juga akan terjadi manakala pembaca dengan latar budaya yang berbeda harus pula  memaknai pepatah Minangkabau yang berbunyi sebagai berikut.
1) Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik
2) Bagaikan tungku nan tigo sajarangan
3) Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Teman-teman dari tataran Sunda atau  dari etnis lainnya (mungkin) kurang dapat memahami secara lebih mendalam maksud yang tersimpan dalam pepatah itu  semudah yang dirasakan oleh masyarakat Minangkabau. Bahkan hal yang  sama (mungkin) juga akan dirasakan oleh masyarakat  Minangkabau yang lahir dan dibesarkan di luar ranah Minangkabau, sebut saja Minangkabau KTP. Ini antara lain disebabkan  karena pepatah Minang teramat kental dengan “nuansa budaya” yang mewarnai kehidupan masyarakat Minangkabau dulu.
Gambaran seperti diuraikan sebelumnya, dipertegas Baradja (1991:129) melalui  pernyataan berikut,  “Bacaan yang penuh dengan bias kebudayaan  dapat menimbulkan  kesulitan dalam memahaminya”.  Pandangan ini tentu  dapat kita manfaatkan sebagai sumber inspirasi untuk menelitinya. Harus disadari bahwa hasil penelitian seperti ini akan sangat bermakna bagi dunia pendidikan, terutama jika dimaksudkan untuk kepentingan penyediaan bahan ajar Muatan Lokal (Mulok). Anda tertantang? Jika ya, silakan hadirkan hasil penelitian ilmiah tentang ini!
5. KETERBACAAN: Bagaimanakah mengukurnya?
Menurut Hafni (1981) ada tiga jenis metode yang biasa digunakan  untuk mengukur keterbacaan wacana. Ketiga metode tersebut adalah (1) formula (2) grafik dan carta, serta (3) prosedur klos (cloze procedure). Lebih jauh dijelaskannya bahwa ada empat formula yang biasa dipakai oleh para peneliti keterbacaan. Pemilihan ini menurutnya didasarkan pada pertimbangan kepraktisan dan kesederhanaan penggunaannya. Keempat formula tersebut adalah Reading Ease, Human Interest, Dale and  Chall, serta Fog Index.
Bagaimana dengan grafik dan carta? Tentang ini menurut Hafni (1981) ada tiga macam grafik  yang biasa dipakai, yaitu grafik Fry, grafik Mc.Laughlin, dan grafik Mugford. Mengenai Carta, disebutnya antara lain Carta Rudolf Flesch. Selanjutnya tentang Prosedur Klos ( selanjutnya penulis namai dengan Tes Lesap ) beliau mendasarkan pada teori yang dikedepankan Taylor (1953).
Dalam uraian selanjutnya idealnya penulis menyajikan  secara  agak rinci tentang  dua jenis pengukuran, yaitu Formula Fry dan Tes Lesap. Dasar pertimbangannya antara lain karena  kedua teknik ini cocok dipakai untuk pengukuran keterbacaan wacana  berbahasa Indonesia. Akan tetapi karena perihal Tes Lesap sudah pernah dimuat dalam blog ini ( lihat  http:// uniisna-wordpress. com/2010/07/20/teknik-rumpang-sebagai-sebuah-instrumen/ ), maka sajian berikut hanya mengulas tentang “Formula Fry”. Ini dilakukan untuk meminimalkan pengulangan.
6. FORMULA FRY: Apakah itu?
Banyak pakar mengakui bahwa Formula Fry merupakan  satu metode pengukuran yang cocok digunakan untuk menentukan tingkat keterbacaan wacana tanpa melibatkan pembacanya. Kecuali itu, Fry juga dapat menentukan  kelayakan sebuah wacana bagi tingkat kelas  tertentu  dilihat dari sudut  keterbacaannya. Dengan  begitu memilih  Fry sebagai metode pengukuran keterbacaan wacana guna melihat keselarasannya dengan pembaca, menurut penulis dapat dipandang sebagai pilihan tepat.
Formula Fry ini dirancang oleh Edward Fry.  Menurut  Harjasujana dan Mulyati (1996/1997) formula ini pertama kali dipublikasikan dalam Journal  of  Reading ( 1977).  Dari kedua pakar ini penulis mengetahui bahwa Formula Fry ini merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana.
6.1 FORMULA FRY: samakah dengan grafik Fry?
Fry bekerja dengan memanfaatkan grafik yang dirancangnya, yaitu Grafik Fry. Grafik ini sarat dengan garis dan angka seperti terlihat dalam gambar berikut. Oleh karena itu untuk memanfaatkan Formula Fry, tidak cukup hanya dengan mempelajari deskripsi tentang cara kerjanya atau hanya dengan menampilkan grafiknya. karena hal ini akan membuat kita bingung. Karenanya deskripsi haruslah disertai grafiknya. Dengan begitu, mudah-mudahan ketika membaca penjelasan kita dapat melihat realitanya dalam grafik.
Seperti diketahui, Fry mendasarkan kajiannya pada dua faktor utama, yaitu     (1) panjang-pendeknya kalimat dan (2) tingkat kerumitan kata atau panjang pendeknya kata. Sebelum membahas segala sesuatu tentang penggunan Formula Fry ini, sebaiknya kita mencermati grafik itu terlebih dahulu dengan
secermat-cematnya. Ini penting agar kita dapat memahami penjelasan selanjutnya sambil melihat realitanya di dalam grafik. Inilah grafik dimaksud.
Grafik Fry
Apakah maksud angka-angka yang tertera dalam grafik itu? Sependek yang penulis ketahui, angka di samping kiri grafik, seperti 25,0;  20,0; 16,7 dan seterusnya hingga angka 3,6 menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat perseratus perkataan. Selanjutnya angka yang tertera di bagian  atas grafik seperti angka 108, 112, 116 dan seterusnya sampai dengan angka 172, menunjukkan data jumlah  suku  kata perseratus perkataan. Angka-angka ini  mencerminkan  panjang pendeknya kata yang dapat diketahui dari jumlah perkataan  yang terdapat dalam wacana sampel.
Bagaimana dengan angka-angka yang berderet dalam “badan grafik” yang tersaji di  antara garis-garis penyekat grafik itu?  Angka itu menunjukkan  perkiraan  tingkat keterbacaan wacana yang diukur. Angka satu menunjukkan bahwa wacana yang diteliti cocok untuk pembaca level satu (kelas satu), angka dua menunjukkan bahwa  wacana itu cocok untuk pembaca level dua,  dan begitulah seterusnya, angka 12 menunjukkan bahwa wacana tersebut cocok untuk pembaca level 12 atau kelas 12.
Daerah yang  diarsir di  sudut kanan atas dan sudut kiri  bawah grafik Fry yang terlihat gelap itu, merupakan wilayah invalid. Artinya,  jika titik  pengukuran jatuh di daerah itu, berarti wacana yang diteliti dinyatakan invalid  (baca: tidak cocok dengan  pembaca tingkat mana pun,  karena wacana tersebut  tergolong wacana yang gagal atau tidak baik digunakan sebagai bahan ajar). Wacana seperti itu harus diganti dengan wacana lain yang lebih baik atau diselaraskan terlebih dahulu oleh guru yang akan memakai wacana itu.
Selain berupaya menyelaraskan wacana dengan daya baca siswa, guru juga perlu berupaya dengan segala cara untuk meningkatkan daya baca siswa, agar mereka menjadi “pembaca matang” Berkaitan dengan ini, profesor kita yang dikenal sebagai pakar membaca yakni Harjasujana (1987:25) mengingatkan kita (baca: Guru) melalui pernyataan berikut,  “ Salah satu dari tugas-tugas yang merupakan tantangan kuat yang terpenting bagi guru SLTP dan SLTA ialah menyelaraskan siswa dengan buku yang bisa digunakan secara efektif”
6.2 FORMULA FRY: Mengedepankan faktor apa sajakah?
Sajian sebelumnya sudah mengungkapkan dengan jelas bahwa Formula Fry mendasarkan kajiannya  pada dua faktor utama, yaitu (1)  panjang-pendek kalimat dan (2)  tingkat kesulitan kata. Dalam hubungan ini, Harjasujana dan Mulyati (1996/1997:111)  menegaskan bahwa,  “… untuk menolokukuri tingkat  kesulitan sebuah kalimat dengan kriteria panjang pendeknya kalimat, tampaknya tidak mengundang masalah”. Kenyataan membuktikan bahwa   kalimat kompleks  memang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan kalimat tunggal. Bagaimanapun kalimat kompleks sarat dengan ide,  sarat gagasan,  sarat dengan konsep,  sedangkan kalimat tunggal hanya mengandung sebuah ide,  sebuah gagasan dan sebuah konsep tertentu. Oleh karena itu kalimat kompleks  tentu lebih  sukar memahaminya  ketimbang  kalimat-kalimat tunggal.
Kecuali itu Harjasujana dan Mulyati (1996/1997) juga membekali penulis dengan  beberapa catatan penting tentang pemanfaatan grafik Fry. Pertama, jika yang  akan diteliti  adalah  keterbacaan wacana dalam sebuah  buku,  maka pengukuran  sebaiknya  dilakukan  sekurang-kurangnya tiga kali,  dengan  memilih sampel yang  berbeda. Untuk ini  peneliti dapat mengambil  sampel wacana dari  bagian awal, tengah, dan  bagian akhir buku. Akan tetapi jika yang  akan diteliti berupa artikel, jurnal, atau surat kabar,  pengukuran dapat dilakukan satu kali saja, kecuali jika penulisnya berbeda-beda.
Kedua, formula Fry  pada awalnya dirancang untuk  pengukuran wacana berbahasa Inggris.  Mengingat sistem  persukuan kata-kata berbahasa Inggris sangat berbeda dengan sistem pola suku kata bahasa Indonesia,  maka formula Fry ini tidak dapat digunakan langsung untuk meneliti keterbacaan wacana berbahasa Indonesia. Namun demikian, bukan berarti tidak dapat dipakai sama sekali.  Peneliti wacana berbahasa Indonesia dapat menggunakan formula ini, asal saja dimodifikasi terlebih dahulu
Sehubungan dengan pandangan terakhir itu, Harjasujana dan Mulyati (1996/1997: 123) menawarkan satu model modifikasi yang mereka rancang berdasarkan pada satu penelitian terhadap  buku Lancar Berbahasa Indonesia 2  untuk  Sekolah  Dasar kelas 4 karangan Dendy Sugono.  Cara yang mereka tawarkan  adalah dengan menambah satu langkah lagi –di luar langkah yang ditetapkan Fry–, yakni dengan cara memperkalikan hasil perhitungan suku kata  (sesuai dengan prosedur kerja  Fry)  dengan angka 0,6. Angka 0,6 ini menurut mereka merupakan perbandingan antara jumlah suku kata bahasa Inggris dengan jumlah suku kata bahasa Indonesia, yakni 6:10. Artinya, enam suku kata bahasa Inggris, kira-kira sama dengan sepuluh suku kata bahasa Indonesia.
6.3  FORMULA FRY: Bagaimana prosedur kerjanya?
Edward Fry ( dalam Harjasujana dan Mulyati  (1996/1997 ) memperkenalkan lima prosedur kerja yang perlu ditempuh dalam penggunaan formula ini. Kelima langkah ini adalah sebagai berikut.
Pertama, memilih penggalan wacana representatif  yang panjangnya lebih kurang 100 perkataan. Langkah kedua, menghitung  jumlah  kalimat  dari  seratus perkataan yang terdapat dalam wacana sampel, hingga  persepuluhan  terdekat. Artinya,  jika kata yang termasuk hitungan 100 buah  perkataan  tidak jatuh di ujung kalimat, maka penghitungan kalimat menjadi  tidak utuh,  karena ada sisa. Kata yang  bersisa tetap dihitung dalam bentuk desimal.
Sekedar contoh model penghitungannya dapat dlihat melalui contoh di bawah ini.  Wacana contoh ini dikutip dari As-Sirjani (2007:149).
1Suatu 2hal 3yang 4perlu 5diwaspadai 6oleh 7para 8pembaca 9dan 10para 11penuntut 12ilmu, 13yakni 14jangan 15sampai 16ia 17tidak 18mengamalkan19ilmu 20yang 21ia 22baca. 23Pembaca 24yang 25sukses 26ialah 27pembaca 28yang 29mengamalkan 30ilmu 31dan 32hasil 33bacaannya, 34supaya  35Allah 36mewariskan 37ilmu 38yang 39belum 40ia 41ketahui 42kepadanya 43dan 44membukakan 45mata 46hati 47dan 48akalnya.
49Ketahuilah  50bahwa  51apa  52saja 53yang 54Anda 55baca 56dan 57Anda 58ketahui, 59kelak 60akan 61menjadi  62hujjah63Apakah  64ia 65akan  66menjadi 67pembela  68bagi 69Anda 70atau 71justru  72sebagai 73malapetaka? 74Maka, 75janganlah 76Anda  77memperbanyak 78malapetaka 79yang 80akan 81Allah 82timpakan 83kepada 84Anda.
85Selain  86itu,  87tidak  88mengamalkan  89ilmu  90merupakan 91salah 92satu 93faktor 94utama 95yang  96menyebabkan  97keberkahan 98ilmu 99dicabut 100Allah.
Perlu kiranya dijelaskan, bahwa model penghitungan manual seperti itu, sebenarnya sekarang dapat dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi komputer.
Kalau kita coba mengimplementasikan pekerjaan langkah dua tadi, dapat dikatakan bahwa wacana sampel itu terdiri atas enam kalimat utuh. Keenam kalimat utuh itu adalah sebagai berikut.
(1)   Suatu hal … baca.
(2)   Pembaca yang sukses … akalnya.
(3)   Ketahuilah bahwa apa … hujjah.
(4)   Apakah ia akan … malapetaka?
(5)   Maka, janganlah Anda …Anda
(6)   Selain itu, … Allah.
Langkah ketiga, yaitu menghitung jumlah suku kata pada wacana sampel tadi. Untuk memudahkan penghitungan jumlah suku kata yang terdapat dalam wacana yang diteliti, kita dapat memberi angka sesuai jumlah suku kata yang terdapat pada setiap perkataan. Ini sebuah pekerjaan yang sebenarnya sangat mudah tetapi sekali gus juga sangat membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Kekeliruan pada tahap pemberian angka ini akan berakibat fatal, karena berkaitan erat dengan hasil yang akan dicapai kelak, yaitu penentuan tingkat keterbacaan sebuah wacana.
Mari kita lihat implementasinya dalam contoh berikut.
Contoh
Suatu3 hal1 yang1 perlu2 diwaspadai4 oleh2 para2 pembaca3 dan1 para2
penuntut3 ilmu2, yakni2 jangan2 sampai2 ia1 tidak2 mengamalkan4 ilmu2 yang1
ia1 baca2. Pembaca3 yang1 sukses2 ialah2 pembaca3 yang1 mengamalkan4 ilmu2 dan1 hasil2 bacaannya4, supaya3 Allah2 mewariskan4 ilmu2 yang1 belum2
ia1 ketahui4 kepadanya4 dan1 membukakan4 mata2 hati2 dan1 akalnya3.
Dengan bekal angka-angka pembantu untuk memudahkan perhitungan itu, dapat kita ketahui bahwa jumlah suku kata yang terdapat dalam kalimat contoh di atas adalah 45 suku kata. Pekerjaan seperti itu perlu dilakukan terhadap kalimat nomor dua dan seterusnya, sehingga diketahui jumlah semua suku kata yang terdapat dalam wacana sampel.
Pada langkah keempat, peneliti dapat mengestimasi tingkat  keterbacaan wacana sampel dengan memanfaatkan formula Fry. Caranya dengan melihat titik temu hasil langkah kedua dengan hasil langkah ketiga. Pertemuan baris horizontal (jumlah suku kata perseratus perkataan) dengan baris vertikal (jumlah kalimat perseratus perkataan)  dalam formula Fry itu akan  menunjuk angka tertentu yang sekaligus merupakan angka estimasi tingkat keterbacaan wacana tersebut bagi pembacanya.
Sesuai namanya –mengestimasi–, maka tingkat keterbacaan wacana itu masih berupa perkiraan. Oleh karena itu, penyimpangan masih sangat mungkin terjadi. Karenanya, Harjasujana dan Mulyati (1996/1997:120) menganjurkan agar dalam penetapan  peringkat keterbacaan wacana sampel, peneliti perlu melakukan pekerjaan langkah kelima, yaitu menambah satu tingkat atau mengurangi satu tingkat. Sebagai contoh, jika titik pertemuan dari persilangan baris horizontal (untuk data jumlah suku kata) dan vertikal (untuk data jumlah kalimat) jatuh di wilayah lima, maka peringkat keterbacaan wacana yang diukur tersebut harus diperkirakan sebagai wacana dengan tingkat keterbacaan yang cocok untuk peringkat empat yakni (5-1), lima, dan enam (5+1) .
Seperti dijelaskan sebelumnya Formula Fry itu sebenarnya dirancang untuk mengukur keterbacaan wacana berbahasa Inggris. Lalu bagaimana jika kita meneliti wacana yang berbahasa Indonesia? Banyak pakar mengatakan bahwa sesungguhnya Formula Fry ini masih dapat dipakai tetapi para peneliti perlu menggunakan Formula Fry yang sudah dimodifikasnyai. Mengapa demikian? Karena wacana berbahasa Inggris berbeda dengan wacana berbahasa Indonesia . Perbedaan dimaksud meliputi banyak hal, antara lain bidang morfologis, sintaksis, sampai pada suku kata.
Jika peneliti belum menemukan Formula Fry yang sudah dimodifikasi dan belum sempat memodifikasi sendiri, peneliti masih dapat memanfaatkan langkah kerja Fry yang asli, dengan catatan proses kerjanya perlu ditambah satu langkah lagi seperti yang sudah diulas sebelumnya. Perlu diketahui bahwa Formula Fry hanya dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana tanpa melibatkan pembacanya. Jika para peneliti ingin mengukur keterbacaan dengan melibatkan pembacanya, maka Tes Lesaplah yang lebih cocok. Kecuali itu, menurut banyak pakar Tes Lesap  juga  merupakan teknik yang paling akurat untuk mengukur tingkat keterbacaan  sebuah wacana. Ini diungkapkan antara lain oleh Paulston (1978) dalam Hafni (1981:27) yang mengatakan bahwa Tes Lesap “… merupakan metode yang dipandang paling berhasil di antara sekian jenis metode yang ada sekarang”. Dengan  begitu, memilih  Fry dan Tes Lesap sebagai teknik untuk mengukur keterbacaan wacana merupakan pilihan yang tepat.
Banyak pemerhati keterbacaan meyakinkan kita bahwa di antara sekian banyak teknik yang  dipakai selama ini, Tes Lesap dipandang sebagai teknik yang  paling berhasil digunakan untuk mengukur keterbacaan wacana. Sekedar pembanding tentang ini, pembaca  dipersilakan melihat pandangan Harjasujana (1987), Tallei (1988), Sakri (1994), Mulyati (1995), Damaianti (1995), Djajasudarma dan Nadeak  (1996), Salem (1999) dan Sulastri (2008). Sajian selanjutnya mengungkapkan sebagian di antaranya.
Damaianti (1995) menegaskan bahwa Tes Lesap merupakan   teknik  yang terbukti paling handal untuk mengukur keterbacaan.   Tidak hanya itu,  Djajasudarma dan Nadeak  (1996)  mengungkapkan  pula bahwa  dalam  pengukuran  keterbacaan  wacana,  Tes Lesap  dipandang sebagai teknik yang  lebih objektif  dibandingkan dengan hasil yang didapat  dengan mempergunakan formula lain. Lebih jauh dikatakannya bahwa Tes Lesap ini dapat mengukur keterbacaan suatu wacana dengan melibatkan langsung pembacanya,  sedangkan formula lain mengukur  keterbacaan hanya dari wacanya.  Selain itu,  teknik ini juga berfungsi sebagai alat  ukur pemahaman  di samping sebagai alat ukur keterbacaan.
7. PENUTUP
Demikianlah sajian singkat perihal keterbacaan dan teknik pengukurannya. Satu hal yang seyogianya tidak boleh kita lupakan adalah bahwa keterbacaan dan keterpahaman sesungguhnya merupakan dua istilah yang berbeda tetapi sangat bertemali. Kalau kajian keterbacaan menjadikan wacana sebagai sasaran penelitian maka keterpahaman lebih memperhatikan kemampuan membaca siswa selaku pembaca wacananya.
Hal lain yang perlu disadari pula adalah bahwa sesungguhnya keterbacaan wacana  –terutama dalam buku pelajaran dan atau bahan ajar–  seharusnya  selalu tinggi bagi pembacanya. Oleh karena itu BNSP telah menjadikan keterbacaan sebagai salah satu kriteria buku pelajaran yang baik.
Mengingat buku-buku pelajaran yang beredar di lapangan belum semuanya memiliki tingkat keterbacan wacana yang tinggi bagi pembacanya, maka guru perlu melakukan upaya penyelarasan wacana dngan daya baca siswa. Upaya ini menurut profesor kita, Harjasujana merupakan satu dari sekian tugas pokok guru yang seharusnya dilakukannya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
KETERBACAAN
A. PENDAHULUAN
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi atau pesan (message) melalui media tulis atau cetak ialah sejauh mana pesan itu dapat ditangkap, dimengerti, dan dipahami oleh pembaca. Hal itu perlu karena pesan yang penting dan bermanfaat akan menjadi sia-sia kalau si penerima pesan atau pembaca tidak dapat menangkap pesan itu dengan baik. Kemampuan membaca dan kemampuan memahami makna bacaan dianggap merupakan persyaratan awal yang perlu dimiliki seseorang untuk dapat menangkap dan memahami pesan yang disampaikan melalui media tulis/cetak. Akan tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. Apabila dilihat kegiatan menulis dan membaca sebagai suatu proses komunikasi, maka tujuan komunikasi sebenarnya tidak hanya sebatas pesan itu sampai dan dipahami oleh pembaca tetapi diharapkan dapat memberikan pengaruh sehingga terjadi perubahan prilaku pembaca (dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sadar menjadi sadar, atau dari tidak mampu menjadi mampu berbuat). Lebih jauh, Rudolf Flesch (1962) berpendapat bahwa keberhasilan penyampaian pesan ditandai dengan pembaca membacanya lebih cepat, lebih menikmatinya, lebih mengerti, dan mengingatnya lebih lama. Pendapat tersebut selaras dengan prinsip belajar dengan menggunakan bantuan media.
Dalam proses pembelajaran yang menggunakan bahan belajar cetak sebagai sumber belajar utama, di samping pembelajar, keterbacaan (readability) menjadi permasalahan tersendiri. Berdasarkan berbagai penelitian diketahui bahwa pebelajar mendapat dan memahami bahan belajar lebih banyak dari buku dari pada sumber belajar lainnya. Kesimpulan ini cukup beralasan mengingat informasi dalam buku dapat dibaca berulang kali, direnungkan, dibedah, dan didiskusikan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan fungsi buku sebagai sumber informasi, pesan yang disampaikan melalui buku perlu dirancang, disusun dan disajikan dalam bentuk yang tidak saja menarik secara visual tetapi juga mudah dimengerti. Apalagi dalam penyusunan bahan belajar mandiri, seperti modul, keterbacaan bahan belajar menjadi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran oleh karena pebelajar diharapkan dapat memahami bahan belajar tanpa bantuan atau sesedikit mungkin menggunakan bantuan orang lain.
Minat dan kegemaran membaca diperlukan dalam membangun masyarakat belajar. Salah satu hambatan dalam menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca ialah keterbacaan bahan bacaan. Kesulitan memahami bahan bacaan memperlemah dan kadang-kadang mematikan motivasi membaca. Bahan bacaan yang tersedia sulit dipahami dilihat dari bahasa yang dipergunakan dan konsep (isi) yang disampaikan terlalu sukar untuk dipahami sehingga tidak menarik untuk dipelajari. Dengan perkataan lain bahan bacaan tersebut mengandung keterbacaan yang rendah. Akan tetapi tidak jarang terjadi dalam hal yang demikian, kemampuan membaca pebelajarlah dijadikan alasan rendahnya pemahaman. Atau ada kalanya kurangnya pemahaman itu dianggap karena pebelajar kurang atau tidak konsentrasi ketika membaca. Pada hal apabila dikaji lebih lanjut, kelemahan itu terdapat pada keterbacaan dalam buku itu sendiri.
Sebagai ilustrasi, dalam mata kuliah Teori Pengambilan Keputusan di Program Pasca Sarjana UNJ buku Administrative Behaviour yang naskah aslinya ditulis H.A. Simon tahun 1945 dijadikan sebagai salah satu buku rujukan utama. Buku itu telah diterbitkan sampai edisi yang keempat (1976) dengan beberapa penambahan halaman. Halaman-halaman tambahan itu ditulis dalam tahun enampuluhan dan awal tujuh puluhan. Buku itu dipergunakan sebagai salah satu buku wajib untuk mata kuliah itu sejak tahun 1996 di program S3. Ternyata sampai sekarang ini mahasiswa selalu mengeluh karena sukarnya memahami isi buku itu. Pada hal kemampuan membaca mahasiswa Pasca Sarjana sudah barang tentu tidak diragukan lagi, sehingga persoalannya besar kemungkinaan bukan terletak pada kemampuan membaca tetapi pada bahan bacaan itu sendiri. Buku itu menggunakan banyak istilah teknis dalam berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, politik, filsafat, dan administrasi. Banyak penjelasan dan contoh yang diberikan berlaku di Amerika dan asing bagi orang Indonesia. Strukur bahasa yang dipakai cukup rumit. Konsep-konsep disajikan dalam bab-bab yang saling berkaitan sehingga sangat sulit memahami salah satu bab tanpa memahami isi bab sebelumnya.
Contoh yang diberikan tadi adalah buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan dipelajari oleh mahasiswa di Indonesia. Kesulitan memahami isi buku dalam bahasa aslinya mendorong mahasiswa membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Semula dengan mempelajari buku terbitan dalam bahasa Indonesia dikira aakan mengatasi kesulitan memahami konsep-konsep dalam buku aslinya (versi bahasa Inggris). Tenyata persoalan kesulitan memahami isi buku itu tidak sepenuhnya terpecahkan dengan membaca versi terbitan dalam bahasa Indonesia. Bahkan bagian-bagian tertentu lebih membingungkan karena terjemahannya tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dalam bahasa aslinya. Nampaknya inti permasalahannya sebenarnya tidak hanya terletak pada bahasa yang digunakan dalam terbitan aslinya tetapi juga isi buku itu mengandung konsep-konsep yang sangat teoritis dan folosofis. Contoh ini menunjukkan bahwa keterbacaan dalam buku itu mencakup keterbacaan dari segi bahasa dan keterbacaan dari segi konsep atau isi buku itu.
Hal yang serupa dengan contoh yang diuraikan tadi dapat terjadi dengan buku-buku pelajaran untuk pendidikan dasar dan menengah. Masalah belajar timbul diakibatkan tingkat keterbacaan yang rendah (karena faktor bahasa dan atau konsep/isi) dalam buku pelajaran sehingga siswa mengalami kesukaran menangkap dan memahami isi bahan belajar itu.
Keterbacaan seharusnya telah diperhatikan oleh penulis ketika menyusun bahan belajar serta oleh editor ketika menyunting naskah itu sebelum diterbitkaan. Guru pun seharusnya telah meneliti keterbacaan bahan belajar sebelum dipergunakan oleh siswa. Akan tetapi tidak jarang masalah keterbacaan tersebut kurang mendapat perhatian atau terabaikan. Kalaupun diperhatikan, mungkin pengukuran keterbacaan dilakukan kurang cermat atau tidak tepat. Sebelum melanjutkan lebih jauh, ada baiknya diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan keterbacaan dalam tulisan ini.
B. KETERBACAAN
Secara semantik, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan ari keterbacaan sebagai “ perihal dapat dibacanya teks secara cepat, mudah dimengerti, dipahami, dan mudah diingat” (hlm. 72). Dari berbagai definisi yang memberikan hakikat keterbacaan (readability) dapat disimpulkan bahwa keterbacaan itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemudahan atau kesulitan memahami suatu bacaan. Keterbacaan berkaitan dengan keadaan tulisan atau cetakan yang jelas, mudah, menarik, dan menyenangkan untuk dibaca sehingga pesan yang disampaikan penulis benar-benar sampai secara tepat kepada pembaca. Dengan demikian, tingkat keterbacaan suatu bahan bacaan diukur dari pihak pembaca. Bacaan yang menurut penulisnya sudah memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi berdasarkan indikator tadi, belum tentu demikian berdasarkan pembacanya. Bahkan dapat terjadi bahwa menurut pembaca, bacaan tersebut tidak menarik, sulit dipahami sehingga membosankan. Tingkat keterbacaan dipengaruhi oleh kosa kata, struktur isi dan kalimat, isi, tipografi, dan ilustrasi yang dipergunakan. Masing-masing komponen ini diukur dan dinilai berdasarkan kriteria atau pandangan pembaca.
Di samping pesan yang harus benar, penulis dan editor naskah bahan belajar cetak diharapkaan menyadari benar pentingnya unsur keterbacaan tersebut dan berusaha agar bahan belajar itu disajikan dengan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti. Pesan itu akan dibaca dan dipahami apabila mudah dibaca, singkat, serta menjawab semua pertanyaan penting yang dicari pembaca. Untuk itu Rothwell dan Kazanaz (1992) menyarankan kepada penulis bahan belajar agar membuat bahan belajar itu mudah dibaca dilihat dari kemampuan pembaca.
Keterbacaan sering diartikan kemudahan untuk memahami bahan bacaan. Oleh karena itu sebagai indikator yang sering dipakai ialah panjangya kalimat atau jumlah kata dalam kalimat, jumlah kata-kata sulit/asing, panjangnya kata atau jumlah kata bersuku jamak (multisyllabic), struktur kalimat seperti kalimat tunggal dan majemuk, serta kalimat aktif dan pasif. Kadang-kadang tingkat keterbacaan suatu bahan bacaan didasarkan atas pengalaman. Guru yang berpengalaman membelajarkan siswa di kelas tiga SD misalnya, dapat mengetahui secara tepat tingkat keterbacaan suatu bacaan bagi siswa kelas tiga SD, walaupun pendapatnya itu sudah barang tentu tidak dapat diberlakukan secara umum.
C. FORMULA KETERBACAAN
Pentingnya keterbacaan dalam bahan belajar cetak disadari sungguh-sungguh khususnya oleh Departemen Pendidikan Nasional sejak diberlakukannya penilaian buku pelajaran untuk dipakai di pendidikan dasar dan menengah. Buku yang dinilai itu digolongkan ke buku teks pelengkap, buku bacaan, atau buku sumber. Jadi buku pelajaran pokok/teks utama belum termasuk di dalamnya. Di samping kebenaran isi, metodologi pembelajaran, grafika, dan keamanan , aspek bahasa dijadikan sebagai kriteria yang ikut menentukan dapat tidaknya buku itu dipakai sebagai sumber belajar. Dalam aspek bahasa ini terlihat adanya unsur keterbacaan yang dirumuskan dalam bentuk kosa kata, struktur kalimat, ejaan dan kaidah-kaidah bahasa lainnya.
Dalam penyusunan dan pengembangan naskah buku pelajaran pokok/teks utama yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, keterbacaan naskah buku diuji melalui proses uju coba. Setelah mempelajari naskah bahan belajar itu, siswa diberikan kuesioner untuk mengetahui apakah siswa menemukan kesulitan dalam memahami bahan belajar itu dilihat dari kata-kata, kalimat, dan paragraf yang dipakai. Namun bahan bacaan itu tidak diujikan secara langsung kepada siswa sehingga data yang diperoleh bukan data objektif hasil pengukuran tetapi data subjektif berdasarkan pendapat siswa. Untuk melengkapi data dari siswa itu, diminta pendapat guru yang mengajarkan bidang studi di kelas yang bersangkutan. Data dari guru ini pun tergolong data subjektif sungguhpun dapat digolongkan sebagai penilaian dari ahli (expert judgement).
Hasil uji keterbacaan seperti yang dilakukan itu memberikan masukan kepada penulis dan editor dalam menyempurnakan naskah buku itu. Akan tetapi masukan itu dianggap masih memiliki kelemahan. Pertama, data yang diperoleh bukan data primer hasil pengukuran yang objektif. Kedua, keanekaragaman kemampuan membaca serta latar belakang budaya siswa, sampel yang dipergunakan dalam uji keterbacaan itu tidak dapat mewakili semua siswa di seluruh Indonesia. Akibatnya, setelah naskah buku diperbaiki dan diterbitkan serta disalurkan ke sekolah masih terdapat saja alasan kurang atau tidak dipakainya buku yang disediakan Pemerintah karena bahasanya berbelit-belit, kata-kata sukar, dan lain sebagainya. Alasan itu menunjukkan bahwa bacaan dalam buku itu tidak mudah dimengerti atau dengan perkataan lain tingkat keterbacaannya belum sesuai dengan kemampuan membaca siswa yang menggunakan bukku itu.
Dalam penilaian buku terbitan swasta untuk dipakai sebagai buku pelajaran pokok/utama di SLTP, Pusat Perbukuan menetapkan kriteria bahasa terpisah dari kriteria keterbacaan secara khusus. Kriteria bahasa menilai penggunaan bahasa dalam penyampaian materi dengan indikator kaidah bahasa, kesesuaian dengan tingkat pendidikan, dan ketepatan istilah. Sedangkan kriteria keterbacaan menilai tingkat kemudahan keterbacaan naskah, yang terdiri atas, struktur kalimat, panjang kalimat, dan kelugasan. (Kadarsah Suryadi dkk, 2000). Sungguhpun indikator ini diberikan penjelasan, dalam penggunaannya belum begitu operasional sehingga unsur subjektivitas belum dapat sepenuhnya dihindarkan. Di lain pihak indikator yang dipergunakan untuk menilai aspek bahasa itu pada hakikatnya juga merupakan indikator untuk menilai keterbacaan
Di samping melalui perkiraan yang bersifat subjektif (subjective judgement) dan uji coba kepada sasaran tertentu, keterbacaan dapat diukur dengan menggunakan sejumlah formula (rumus) keterbacaan seperti, The Dale-Chall Formula, The Fry Readibility Graph, Reading Ease Formula, Flesch Reading Ease/Plesch-Kincaid Grade Level Tools, SMOG Test, Cloze Test dan Fog Index. Semua formula tersebut dipergunakan sebagai alat untuk mengukur dan mengetahui tingkat kesulitan memahami suatu bahan bacaan. Masing-masing formula memiliki keunggulan dan kelemahan. Berikut ini akan diberikan gambaran tentang SMOG Grading, Cloze Test dan Fog Index.
1. Flesch Reading Ease/Plesch-Kincaid Grade Level Tools
Pengukuran keterbacaan dengan menggunakan alat ini dapat dilakukan dengan menggunakan Microsoft Word (MS) dalam komputer. Naskah wacana dimasukkan dalam MS. Sesudah naskah dibuka, pilih dan klik tombol Tool pada menu layar Microsoft Word. Sesudah menu Tool dibuka, pilih dan klik tombol Grammar. Printah ini akan menyuruh MS membaca dan memeriksa ejaan dan tata bahasa dalam naskah wacana itu. Apabila ditemukan kesalahan atau hal-hal yang kurang lazim, MS akan menawarkan beberapa alternatif pilihan. Sesudah MS melakukan pemeriksaan ejaan dan tata kalimat, pada layar komputer akan diperlihatkan statistik dalam tiga kategori: Counts, Averages, dan Readability. Cari pada Readability untuk data keterbacaan dengan istilah Flesch Reading Ease (kemudahan membaca) dan Flesch-Kincaid Grade Level (tingkat pembaca). Angka Flesch Reading Ease seharusnya 60 atau lebih agar sesuai untuk pembaca tingkat 8 (kelas 2 SLTP). Atau untuk kesesuaian tingkat pembaca ini dapat juga dilihat pada Flesch-Kincaid Grade Level. Masalah dalam penggunaan cara ini ialah bahwa MS belum membuat program untuk semua bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dengan demikian cara ini dapat dipakai untuk wacana dengan bahasa yang sudah ada dalam kamus MS.
2. SMOG Test
Test SMOG (Simplified Measure of Gobbledygook) adalah cara lain yang cepat, mudah, dan konsisten dalam menentukan tingkat keterbacaan. Akan tetapi cara ini dianggap kurang sesuai untuk pembaca di bawah kelas enam.
Cara menggunakan test ini ialah sebagai berikut.
a. Pilih tiga sample dari 10 kalimat yang berurutan dari bagian-bagian yang berbeda dalam keseluruhan bahan wacana, sehingga jumlah secara keseluruhan paling sedikit 100 kata.
b. Hitung jumlah kata yang terdiri atas tiga suku kata atau lebih dalam 30 kalimat.
c. Hitung hasil akar dari jumlah kata itu (b).
d. Tambahkan 3 dan hasilnya adalah tingkat pembaca yang sesuai.
Contoh:
a. Jumlah kata yang terdiri atas 3 suku kata atau lebih adalah 64.
b. Hasil akar dari 64 adalah 8
c. 8 + 3 = 11. Jadi tingkat pembaca yang sesuai adalah kelas 2 SLTA.
3. Cloze Test.
Cloze test, yang diperkenalkan oleh Wilson L. Taylor pada tahun 1953, adalah sejenis test dalam bentuk wacana dengan sejumlah kata yang dikosongkan (rumpang) dan pengisi test diminta mengisi kata-kata yang sesuai di tempat yang dikosongkan itu. (Hornby, 2000). Kata “cloze” itu bermakna proses penutupan sementara (Oller, 1979). Disebut dengan penutupan sementara karena sejumlah kata dalam wacana itu dihilangkan atau ditutup secara sistematis untuk diisi dengan cara menerka berdasarkan konteks isi wacana itu. Kebenaran isi jawaban akan dilihat dari nakah asli wacana tersebut. Ada tiga cara menghilangkan kata tersebut:
a. Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara konsisten, tanpa membedakan jenis kata. Cara ini disebut the fixed-ratio method . Misalnya, apabila dipilih kata yang dihilangkan itu adalah kata yang ke-5, maka setiap kata yang kelima (apakah kata asing, nama diri, akronim, atau singkatan) dihilangkan secara konsisten. Cara ini biasanya dipakai apabila kata-kata dalam wacana itu dianggap sudah biasa bagi pengisi test.
b. Menghilangkan kata pada urutan tertentu dengan ketentuan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembuat test. Misalnya, kata itu akan dihilangkan apabila termasuk kata benda atau kata kerja, atau jenis kata lain yang ditentukan oleh pembuat test. Cara ini disebut the variables-fixed ratio. Cara ini biasanya dipakai apabila pembuat test ingin mengetahui tingkat kesulitan kata-kata yang tergolong ke dalam jenis-jenis kata yang ditetapkannya.
c. Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara sistematis tetapi apa bila kata pada urutan tertentu itu adalah nama tempat, nama diri, angka, tanggal, bulan, tahun atau istilah, maka kata itu dilampaui dan dipilih kata berikutnya. Hal ini dilakukan karena kata-kata itu sulit diterka atas dasar konteks kalimat. Cara ini disebut the modified fixed-ratio method. Cara ini banyak dipakai untuk wacana yang mengandung banyak istilah atau nama diri.
Cloze test yang kemudian juga dipakai untuk menguji pemahaman membaca (reading comprehension), pada awalnya dibuat untuk menguji keterbacaan . (Heaton, 1975). Melalui test ini dapat diketahui kesulitan calon pengguna dalam mengisi kata-kata yang dikosongkan (rumpang) secara teratur dalam suatu uraian. Semakin dekat jarak kata yang dikosongkan, mungkin semakin sulit mengerjakan soal itu dan sebaliknya. Kata yang dibuang (dikosongkan) itu biasanya setiap kata yang kelima atau yang ketujuh. Karena kata yang dipilih mungkin saja kata yang maknanya sama (sinonim) dengan kata aslinya, maka sinonim kata itu dapat juga dianggap benar. Akan tetapi apabila diharapkan kata yang diisikan adalah kata yang persis sama dengan kata aslinya (kata yang dibuang) maka huruf awal kata itu dituliskan dan huruf-huruf berikutnya dikosongkan. Semakin sedikit kesalahan yang dibuat oleh pengisi test, berarti semakin tinggi tingkat keterbacaan naskah tersebut dan sebaliknya, semakin banyak kesalahan yang dibuat berarti semakin rendah tingkat keterbacaannya.
Prosedur yang ditempuh dalam menggunakan test ini ialah sebagai berikut:
1. Pilihlah tiga buah uraian dalam naskah atau buku tersebut secara acak, masing-masing pada bagian awal, tengah dan akhir. Uraian yang dipilih hendaknya berdiri sendiri dan utuh dalam arti mempunyai satu konsep atau ide. Panjang uraian kurang lebih 250 kata.
2. Uraian yang dipilih hendaknya menarik bagi calon pengguna.
3. Hindari uraian yang banyak menggunakan nama diri, seperti nama orang dan nama tempat.
4. Salin kembali masing-masing uraian tersebut dengan ketentuan:
a. Berikan judul untuk masing-masing uraian untuk memberikan gambaran umum tentang isi uraian,
b. Tulis kembali kalimat pertama masing-masing uraian secara utuh untuk memberikan gambaran isi uraian lebih spesifik.
c. Untuk kalimat-kalimat berikutnya, buang setiap kata ke lima atau kata ketujuh secara teratur. Kata berulang dihitung dua kata. Kalau pembaca diharapkan mengisi kata yang dikosongkan itu tepat seperti kata aslinya , tuliskan huruf awal kata itu dan diikuti dengan strip sebanyak sisa huruf kata tersebut ( misalnya, kata yang dibuang ialah warung, maka ditulis
w_ _ _ _ _.)
d. Tuliskan kalimat terakhir masing-masing uraian secara utuh untuk memberikan gambaran tentang isi uraian secara lebih lengkap.
5. Pilih secara acak sesedikitnya sepuluh calon pengguna naskah tersebut untuk mengerjakan test itu.
6. Berikan petunjuk yang jelas, termasuk tujuan diberikannya test bahwa yang ingin diketahui bukanlah kemampuan membaca mereka tetapi tingkat keterbacaan naskah itu sendiri. Kata yang dikosongkan diisi hanya dengan satu kata yang dianggap paling sesuai dengan maksud kalimat dan uraian,
Tingkat kesulitan keseluruhan naskah dapat dilihat dari jumlah kata yang benar diisikan pada test itu. Hasil dengan menggunakan Cloze Test ini dapat dikategorikan sebagai berikut.
Jumlah kata yang benar Tingkat kesulitan
a. > 50 % “Mudah” dalam arti pembaca mengerti isi bacaan.
b. >35% – 50% “Agak Sukar” dalam arti pembaca memerlukan bantuan untuk mengerti isi bacaan
c. <35 % – 35 % “Sangat Sukar”, dalam arti pembaca tidak dapat memahami isi bacaan.
Hasil test tersebut dapat dilihat secara individual dan kelompok. Dapat terjadi hasil masing-masing individu secara signifikan berbeda karena latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Dengan demikian, mungkin saja suatu bahan bacaan sangat sulit bagi orang tertentu tetapi sangat mudah bagi orang lain dalam kelompok yang sama. Akan tetapi dalam kaitannya dengan bahan bacaan yang dipergunakan dalam kelas maka hasil rata-rata dalam kelompok biasanya yang digunakan.
4. Fog Index
Kalau Cloze Test dipergunakan dengan mengujikan bahan bacaan itu kepada calon penggunanya, Fog Index dipergunakan oleh penulis, editor atau guru sendiri, tanpa ketergantungan kepada orang lain. Fog Index dipergunakan dengan mengidentifikasi kata-kata sulit dalam suatu uraian. Dalam bahasa Inggris kata-kata sulit itu dianggap antara lain ialah kata yang dalam mengucapkannya terdiri atas lebih dari satu suku kata.
Prosedur yang ditempuh dalam menggunakan Fog Index adalah sebagai berikut,
1. Pilihlah tiga jenis uraian dalam naskah atau buku itu secara acak yang terdiri atas masing-masing pada bagian awal, tengah, dan akhir.
2. Untuk masing-masing uraian, hitunglah 100 kata mulai dari awal uraian. Berikan tanda pada kata yang keseratus itu dengan ketentuan:
a. Kata berulang dihitung dua kata.
b. Kata yang digunakan lebih dari satu kali dihitung satu kata.
c. Kata singkatan dan angka (lebih dari satu angka seperti 5000) dihitung satu kata.
3. Hitunglah rata-rata panjang kalimat yang lengkap dalam uraian itu dengan cara:
a. Carilah tanda titik terakhir (sebagai tanda akhir kalimat) sebelum kata yang keseratus tersebut. Hitung dari awal uraian berapa kalimat yang sempurna sampai titik terakhir sebelum kata yang keseratus itu.
b. Hitung jumlah kata dari titik terakhir sampai dengan kata yang keseratus itu. Kemudian jumlah kata itu diergunakan sebagai angka pengurang dari 100 kata, maka akan diperoleh jumlah kata dalam kalimat lengkap yang terdapat sampai pada kata yang keseratus itu.
c. Bagilah hasil pengurangan itu dengan jumlah kalimat lengkap (sampai kata yang keseratus) maka diperoleh jumlah rata-rata kata dalam kalimat lengkap.
4. Carilah kata-kata yang berjumlah dua suku kata atau lebih sampai kata yang keseratus dan hitung berapa jumlahnya Kata-kata yang demikian dianggap kata-kata sukar.
5. Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
2(RPK + KS)
—————– + 5
5
RPK = Rata-rata Panjang Kalimat
KS = Kata-kata sukar
6. Hasil perhitungan dapat dikategorikan sebagai berikut
Hasil Kategori
a. 12 – 20 Sukar
D. PENGGUNAAN CLOZE TEST DAN FOG INDEX.
Uji keterbacaan dengan menggunakan teknik atau formula yang manapun bermanfaat untuk penulis, editor dan guru. Dengan mengetahui tingkat keterbacaan naskah yang ditulisnya, penulis dapat menyempurnakan nasakah tersbut dari aspek struktur atau pilihan kata. Demikian juga dalam proses penyuntingan, hasil uji keterbacaan membantu editor dalam menyunting naskah sehingga dapat dipahami secara baik oleh pembaca sasaran. Hasil uji keterbacaan membantu guru dalam memilih buku sebagai sumber belajar dalam suatu bidang studi serta dapat pula membantunya dalam memberikan penjelasan pokok-pokok bahasan dalam buku itu.
Cloze Test dan Fog Index yang dibicarakan dalam tulisan ini bukanlah teknik dan formula yang terbaik dari sekian banyak teknik dan formula yang ada. Kedua cara ini dikemukakan hanya karena dianggap lebih praktis, lebih cepat, dan lebih mudah untuk digunakan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kata-kata sulit bukanlah semata-mata ukuran untuk menentukan tingkat kesulitan bahan bacaan. Jenis dan ukuran huruf, mutu tulisan atau cetakan, serta tata letak dapat saja mempengaruhi keterbacaan. Panjangnya dan struktur kalimat serta latar belakang atau karakteristik pembaca juga mempengaruhi tingkat keterbacaan, sungguhpun hal yang belakangan ini disebut cenderung dianggap lebih mempengaruhi kemampuan membaca daripada keterbacaan suatu bahan bacaan. Masing-masing bidang studi memiliki ciri khas sehingga cara menguji keterbacaannya juga perlu berbeda. Misalnya, cara menguji keterbacaan naskah matematika dan naskah sejarah tentu saja berbeda. Hasil uji keterbacaan juga dianggap sulit digeneralisasikan untuk calon pembaca sasaran yang sifatnya heterogen apalagi kalau sangat heterogen. Kenyataan ini ikut mendorong penerapan kebijakan lokal atau kebijakan berbasis sekolah
Cloze Test diujikan kepada calon pembaca sasaran. Oleh karena itu diharapkan dapat memberikan gambaran yang tepat tentang tingkat keterbacaan naskah itu. Pemilihan sample tentu sangat menentukan ketepatan hasil test untuk keperluan generalisasi. Test ini memerlukan banyak waktu dan juga biaya kalau dilakukan dalam ruang lingkup wilayah atau nasional, apalagi kalau populasinya sangat heterogen. Kalau kurang penjelasan tentang test ini, pengisi test dapat mengira test ini adalah untuk menguji kemampua dan pemahamannya dalam membaca, sehingga ia memberikan sikap yang berbeda dan dapat mengurangi objektivitas test dilihat dari tujuannya. . Hendaknya tetap diingat bahwa dalam menggunakan Cloze Test yang diuji adalah keterbacaan naskah bukan kemampuan membaca.
Awalnya Fog Index dipergunakan untuk menguji keterbacaan dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa tersebut panjang kata dianggap ikut menentukan kesulitan kata itu. Asumsi tersebut belum tentu sepenuhnya benar. Dapat saja kata itu hanya terdiri dari satu suku kata tapi asing bagi pembaca sehingga dianggap sukar. Kesukaran suatu kata juga ditentukan oleh frekwensi kata itu dipergunakan oleh pembaca. Pendapat ini juga berlaku untuk semua bahasa. Oleh karena itu Balitbangdikbud pernah mencoba mengidentifikasi kata-kata yang perlu dipelajari oleh siswa di masing-masing kelas di SD berdasarkan frekwensi penggunaan kata tersebut. Sayangnya hasil penelitiam itu kurang disosialisasikan.
Penulis pernah mencoba melihat tingkat keterbacaan suatu naskah dengan menggunakan Cloze Test dan Fog Index untuk dua kelompok mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta dalam waktu yang berbeda (tahun 2002 dan 2003). Bahan yang diujikan adalah naskah yang sama; hanya bentuknya disesuaikan dengan persyaratan Cloze Test dan Fog Index. Hasil dari kedua kelompok itu ternyata sama. Baik berdasarkan Cloze Test maupun Fog Index , naskah yang diuji itu tergolong agak sukar dipahami.
Pengalaman yang kecil itu menunjukkan bahwa untuk menguji keterbacaan suatu naskah ada baiknya menggunakan tidak hanya satu jenis cara saja tetapi ada baiknya dibandingkan dengan cara lain. Kalau Cloze Test memerlukan banyak biaya dan waktu, Fog Index nampaknya lebih hemat karena dapat dilakukan oleh penulis, atau editor, atau guru sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hasil test keterbacaan tidak hanya bermanfaat bagi penulis dalam memperbaiki naskahnya, namun juga dapat bermanfaat bagi guru dalam memprediksi konsep-konsep yang sukar bagi siswanya. Dengan demikian guru dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci untuk konsep-konsep tersebut sehingga siswa dapat memahami keseluruhan materi pelajaran lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hornby, A.S. (2000). Oxford advanced learner’s dictionary of current English. London: Oxfprd University Press
Oller, J.W. (1979). Language tests at school. London: Longman Group Ltd.
Alderson, J.C. (2000). Assessing reading. Cambridge: Cambridge University Press.
Morrison, G.R., Ross, S.M., & Kemp, J.E. (2001). Designing effective instruction. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar